Headlines News :
Home » » Ketika Harus Mencintai

Ketika Harus Mencintai

Diposkan Oleh Muhammad Zaki on Minggu, 23 September 2012 | 23.58

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertempuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik” (Ali- ‘imran 14)

 Di dunia ini, tidak ada manusia yang tidak mencintai, karena secara fitrahnya, manusia memang mencintai banyak hal. Seperti yang disebutkan di dalam surat Ali-‘Imran di atas, bahwa manusia mencintai banyak hal. Manusia mencintai harta, kedudukan, kendaraan, perempuan, tanah yang luas dan lain sebagainya. Keinginan untuk memiliki sesuatu tidak akan habis sebelum mulut manusia tersumpal oleh tanah (mati). Andai mereka gudang impian, niscaya tak mampu menampung stok impiannya. Andai diberi satu gunung dan itu sudah didapatkannya, niscaya ia akan minta lagi dua, tiga dan seterusnya. Itulah manusia. 

Mencintai sesuatu itu tidak ada salahnya. Bahkan, kita masih diberikan kesempatan untuk hidup ini juga karena cinta. Kita masih memiliki kecintaaan kepada sesuatu dan berharap akan menggapainya, dan yang pasti, Allah masih mencintai hamba Nya sehingga kita masih diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di bumiNya dan menikmati fasilitas-fasilitas luar biasa yang Allah berikan kepada kita. 

Namun, terkadang cinta membuat orang menjadi serakah dan membuat orang menderita. Seperti syair Ti fatkai, adik seperguruan sun gokong, yang selalu bersenandung, “Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada berakhir.” Oh ya? Apakah benar cinta itu membuat orang menderita? Tentu tidak kawan, karena cinta yang membuat menderita adalah cinta yang berlebihan dan memberikan cinta kita kepada sesuatu yang tidak sepantasnya kita berikan cinta. 

Saat ini, banyak sekali problema terutama di kalangan pemuda yang menganggap cinta itu harus diekspresikan. Yah, tentu tidak asing lagi di telinga kita istilah “pacaran”, yang jelas-jelas akan menguras dompet, energi, pikiran dan juga perasaan. Apalagi yang sudah terjerumus dan terlalu mencintai orang yang dikaguminya. Tentu tidak hanya yang mencintai saja yang merasa menderita karena harus berkorban, yang dicintai pun tentu akan merasa kurang nyaman. Orang yang terlalu mencintai akan berbuat apa saja, memberikan harta bahkan kehormatan, na’udzubillah. Apakah itu yang dinamakan cinta? Yang akan berujung dengan penyesalan dan penderitaan? 

Cinta yang keterlaluan akan menimbulkan masalah. Orang-orang menyebutnya sebagai cinta buta, cinta yang membabi buta, tak tahu arah dan tujuan. Maklum saja, namanya juga buta. Banyak pula orang yang sok tahu mengenai apa itu cinta dan mereka bebas menafsirkannya. Padahal, mereka mengartikan apa itu cinta hanya karena pengalaman saja. Menafsirkan tanpa ilmu dan berujung pada kehinaan. Seorang penyair arab pernah mengatakan,

 “Barang siapa yang berkehendak mendefinisikan kata cinta, niscaya ia akan gagal. Seseorang yang belum pernah merengguk manisnya madu cinta itu, tidak akan bisa menguraikan isi kandungannya. Dan jika ada orang yang mengatakan bahwa ia terpuaskan oleh cinta. Maka, sesungguhnya ia tidak pernah merasakannya. Sebab, cinta ibarat minuman yang memabukan yang tidak akan memuaskan para penikmatnya “

Barangkali anak muda saat ini memang haus akan cinta. Mereka berburu cinta di manapun mereka berada. Padahal sebenarnya ada cinta di sekitar mereka, cinta yang luar biasa, cinta yang tak terhitung dan cinta yang membuat mereka masih hadir di dunia ini. Tidakkah mereka menyadari? Di sini kita akan bahas sedikit, beberapa hal yang membuat manusia sangat mencintai bahkan mendewakan sesuatu yang dicintainya.

Pertama, Cinta Harta. 

Tidak usah diragukan lagi, manusia pasti mencintai yang satu ini. Membuat rakus dan melalaikan siapa saja. Rasulullah Muhammad S.A.W pernah bersabda,
 “Sesungguhnya masing-masing umat itu mempunyai cobaan dan cobaaan umatku adalah harta dan kekayaan” (HR At-Tirmidzi) 

Dan karena harta dan kekayaan inilah, banyak manusia menjadi rakus. Di pemerintahan kita juga demikian, munculnya para perampok harta masyarakat juga tidak sedikit. Mereka merasa tidak puas meski sudah mencaplok ratusan juta bahkan milyaran rupiah. Apakah mereka akan membeli beras untuk stok di akhirat nanti? Atau mungkin akan menanak nasi di neraka? Padahal mereka sendiri yang akan dimasak dan digodok di sana. 

Kedua, Cinta Kedudukan atau Jabatan 

Kecintaan kepada kedudukan juga berkaitan dengan kecintaan kepada harta. Banyak kasus di negeri ini, mulai dari perebutan kekuasaan dengan alasan mensejahterakan rakyat namun tak lain hanya pembual handal hingga jabatan yang diberikan kepada orang yang bukan ahlinya. Maka bersiaplah untuk kehancuran, karena jika amanah telah  diberikan kepada orang yang bukan ahlinya, mau dibawa kemana negeri ini? Tidak hanya janji manis, tidak hanya uang banyak, namun keahlian khusus. Tak salah memang jika rakusnya mereka diibaratkan seperti serigala buas, 

“Rakusnya seseorang atas harta dan kedudukannya terhadap agamanya, lebih bahaya daripada dua serigala lapar yang dilepas di padang gembala” (HR At-Tirmidzi)

Padahal jabatan adalah penyesalan, begitu sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kecuali orang yang benar-benar ahli di bidangnya. Ada kisah menarik dari zaman setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, yaitu ketika Salman A. Farisi menjadi gubernur Madain. Dikisahkan oleh Hisyam bin Hisan dari Hasan, Salman sebenarnya digaji sebagai gubernur atau amir tidaklah sedikit, tapi kezuhudannya luar biasa, mirip seperti khalifah Umar bin Khattab ra. Suatu hari, ada seseorang dari Syiria yang terlihat lelah karena membawa minyak zaitun dan kurma. Karena terlalu lelah, ia berhenti dan mendapati orang yang terlihat biasa-biasa saja dari golongan tak berpunya. Akhirnya orang Syiria ini berpikir akan mengurus orang biasa itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Salman, dan ia memberi isyarat kepadanya. Salman pun menurut.

 “Tolong bawakan barangku ini,” dipikul lah barang itu oleh Salman. Tak lama kemudian, di perjalanan mereka berpapasan dengan rombongan dan Salman memberi salam pada mereka sambil berhenti. 

“Juga kepada Amir, kami ucapkan salam,” mendengar hal itu, orang Syiria menjadi agak bingung. 

Amir? Amir siapa? Dan keheranan itu bertambah ketika rombangan yang berpapasan tadi mendekat kepada orang yang memikul bawaannya.

“Berikanlah kepada kami wahai Amir,” kata mereka. Orang Syiria itu baru mengerti ternyata yang ia suruh tadi tak lain adalah gubernur Madain sendiri. Karena tidak enak hati, orang Syiria itu pun mendekat ke Salman, tapi Salman berkata sambil menggeleng. 

“Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu.” Subhaanallaah... 

Ketiga, Cinta kepada Manusia 

Seperti yang sebelumnya, kecintaan kepada manusia kadang membuat buta dan merelakan apa saja. Namun tidak perlu khawatir karena jika kecintaan itu tulus dan karena Allaah, cinta itu akan menjadi berkah. Kita mencintai manusia ada beberapa sebab. Mungkin karena kecantikan, ketampanan atau mungkin karena harta dan kebutuhan. 

Ada kisah menarik yang diriwayatkan Abu Hurairah ra. 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang akan berkunjung ke tempat saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah ta’ala mengutus malaikat untuk mengujinya.

Setelah malaikat itu berjumpa dengannya, ia bertanya: “Hendak kemanakah kamu?” 

Ia menjawab: “Saya akan berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa itu.” 

Malaikat bertanya lagi: “Apakah kamu merasa berhutang budi padanya sehingga merasa perlu mengunjunginya?” 

Laki-laki itu menjawab: ”Tidak. Aku mengunjunginya semata karena aku mencintainya karena Allah ta’ala.” 

Malaikat kemudian berkata: “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk menjumpaimu, dan Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah” (HR Muslim) 

Sungguh, cinta tanpa syarat ini adalah yang sangat langka di bumi kita yang kebanyakan cintanya karena kepentingan. 
Sementara saat ini, bumi kita dihiasi berbagai cinta yang aneh-aneh. Cinta yang membuat orang buta dan gila. Memberikan cinta kepada seseorang yang berjasa memang tidak ada salahnya. Namun akan menjadi sebuah petaka manakala kita terlalu berlebihan. Memang, cinta akan membuat orang akan mengorbankan apa saja. Seperti syair Ibn Jauzi.

 “Cinta itu membuat engkau buta 
Akan rela yang dicinta 
Dan akan rela 
Pada apapun keadaannya 
Cinta itu ketika menghujam 
Membuatmu siap berkorban untuk yang dicinta"

Ya, itulah risiko orang yang mencintai. Tidak hanya kepada manusia, kepada apapun pasti akan tetap ada pengorbanana. Baik itu waktu, tenaga, perasaan dan lain sebagainya. Manusia tidak bisa untuk tidak mencintai, karena tanpa mencintai mereka tidak akan bertahan. Karena dengan mencintai, mereka memiliki tujuan hidup. Dan karena cinta, hidup mereka akan terasa lebih berwarna. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta oleh Nya. 

Di dalam diri setiap manusia, 
Penuh dengan rasa Cinta 
Kepada harta, tahta dan manusia 

Namun cinta kepada yang esa 
Di atas itu semua 
Kebahagiaan pasti akan tiba 

Cinta suci luar biasa 
Fitrah bagi manusia 
Kasih sayang dari Sang Pencipta 

Jangan kau berpaling dari cinta 
Cinta dari yang Maha Pencipta 
Kau pasti tergoda 

Cinta yang abadi hanya ada 
Cinta membuat diri bahagia 
Pada Allah saja 

~ Arti Cinta – Snada

Diambil dari e-book "Ketika Harus Mencintai" karya Akh.Taufik
Bagikan Artikel Ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. AL-IKHWAN17 - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger