Headlines News :
Home » , » Mut'ah: Haram Bagi Putri Pembesar, Halal Bagi Kalangan Awam

Mut'ah: Haram Bagi Putri Pembesar, Halal Bagi Kalangan Awam

Diposkan Oleh Muhammad Zaki on Rabu, 05 September 2012 | 07.59

(Diceritakan oleh Sayyid Husain Al-Musawi, seorang ulama Syiah yang bertobat kembali kepada ajaran Ahlul Sunnah)
 
Suatu waktu saya duduk bersama Imam Al-Khaui di kantornya. Tiba-tiba masuk kepada kami dua orang laki-laki yang sedang memperdebatkan suatu masalah. Keduanya bersepakat untuk menanyakannya kepada Imam Al-Khaui untuk mendapatkan jawaban darinya.

Salah seorang di antara mereka bertanya, “Wahai sayid, apa pendapatmu tentang mut’ah, apakah ia halal atau haram?”

Imam Al-Khaui melihat kepadanya dan dia menangkap sesuatu dari pertanyaannya, kemudian dia berkata kepadanya, “Di mana kamu tinggal?” maka dia menjawab, “Saya tinggal di Mosul, saya tinggal di Najaf semenjak sekitar dua bulan yang lalu.”

Imam berkata kepadanya, “Kalau demikian berarti anda adalah orang Sunni?”

Pemuda itu menjawab, “Ya!”

Maka pemuda itu berkata kepadanya, “Saya di sini semenjak dua bulan yang lalu merasa kesepian, maka nikahkanlah saya dengan anak perempuanmu dengan cara mut’ah sebelum saya kembali kepada keluargaku.”

Maka sang Imam membelalakkan matanya sejenak, kemudian berkata kepadanya, “Saya adalah pembesar, dan hal itu haram atas para pembesar, namun halal bagi kalangan awam dari orang-orang Syiah.”

Si pemuda melihat kepada Al-Khaui sambil tersenyum. Pandangannya mengisyaratkan akan pengetahuannya bahwa Al-Khaui sedang mengamalkan taqiyah.

Kedua pemuda itu bangkit dan pergi. Saya meminta ijin kepada Imam Khaui untuk keluar. Saya menyusul kedua pemuda tadi. Saya mengetahui bahwa penanya adalah orang Sunni dan sahabatnya adalah orang Syi'i. Keduanya berselisih pendapat tentang nikah mut’ah, apakah ia halal atau haram? Keduanya bersepakat untuk menanyakannya kepada rujukan agama, yaitu Imam Al-Khaui. Ketika saya berbicara dengan kedua pemuda tadi, pemuda yang berpaham Syiah berontak sambil berkata, “Wahai orang-orang durhaka, kamu sekalian membolehkan nikah mut’ah kepada anak-anak perempuan kami, dan mengabarkan bahwa hal itu halal, dan dengan hal itu kalian mendekatkan diri kepada Allah, namun kalian mengharamkan kepada kami untuk nikah mut’ah dengan anak-anak perempuan kalian?”

Maka dia mulai memaki dan mencaci serta bersumpah untuk berpindah kepada madzhab Ahlu Sunnah, maka saya pun mulai menenangkannya, kemudian saya bersumpah bahwa nikah mut’ah itu haram, kemudian saya menjelaskan tentang dalil-dalilnya.

Sesungguhnya mut’ah adalah dibolehkan pada masa jahiliyah. Ketika Islam datang, nikah tersebut dibiarkan beberapa waktu, kemudian diharamkan pada hari Khaibar. Tetapi yang termasyur di kalangan Syiah dan di kalangan para ulama mereka bahwa Umar bin Khaththab adalah yang mengharamkannya. Dan inilah yang diriwayatkan oleh sebagian ulama kami.

Demikianlan kisah tentang mut'ah yang diceritakan oleh seorang ulama besar Syiah yang akhirnya keluar dari mazhab itu dan bertobat masuk ke Ahlus Sunnah, Sayyid Husain Al-Musawi. Sayyid Husain menceritakan kisah di atas dalam bukunya, LilLah tsumma li Tariikh.
Bagikan Artikel Ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. AL-IKHWAN17 - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger