Headlines News :
Home » » Tipu Daya Freemasonry di Indonesia

Tipu Daya Freemasonry di Indonesia

Diposkan Oleh Muhammad Zaki on Jumat, 19 Oktober 2012 | 21.29

Indonesia walaupun penduduknya mayoritas beragama Islam, bahkan yang terbesar di dunia, tetapi sebagian besar tidak menganut ajaran Islam yang sesungguhnya. Kaum Muslimin yang berada di Pulau Jawa lebih dikenal dengan istilah “abangan”. Sedangkan yang berada di daerah lain keadaannya sama saja, Mereka beragama Islam tetapi tidak berjiwa Islam. Kebiasaan hidup mereka telah tercampur dengan adat istiadat setempat, berupa Animisme, Hindu, Budha, Nashrani dan sedikit Islam yang bercampur-baur dengan paham tarikat dan Sufi.

Sejarah perkembangan Islam di Indonesia diwarnai dengan berkuasanya berbagai kerajaan. Di sana dikenal adanya kerajaan Demak (Jawa), Bone (Sulawesi), Pagaruyung (Sumatera), dan lain-lain, yang semuanya mengaku sebagai kerajaan Islam. Namun dalam tatacara, kebiasaan dan hukum yang berlaku di sana, hukum (syariat) Islam belum diberlakukan. Hukum rajam bagi pezina dan potong tangan bagi pencuri, belum pemah diberlakukan di kerajaan-kerajaan tersebut. Mereka masih memuja benda-benda azimat, pusaka nenek moyang atau tuah berbagai benda. Bahkan jika kita perhatikan keadaan di Yogyakarta dan Surakarta yang dianggap ada bekas-bekas Islamnya, ternyata di sana yang tampak adalah upacara-upacara syirik belaka.

Demikianlah keadaan Indonesia sekilas. Itulah sebabnya ketika muncul gerakan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, ia mendapat tantangan yang berat dari penguasa dan mereka yang mengaku sebagai Muslim.

Gerakan Freemasonry dengan segala pengaruhnya telah masuk ke Indonesia sejak masa penjajahan. Ia tidak terlepas dari kiprah penjajah Belanda di Indonesia. Kerajaan Belanda sejak dahulu telah dikenal sebagai tempat pertemuan Freemasonry se-Eropah. Di Benelux (Belanda, Nederland, Luxemburg), gerakan ini tumbuh subur karena pemerintah di sini membolehkan para pejabatnya menjadi anggota.

Gerakan kesukuan semacam Boedhi Oetomo, Paguyuban Pasundan, atau yang sejenis dengannya, dalam tingkah polah para pemimpinnya ternyata sejalan dengan paham-paham dari Gerakan Freemasonry dalam usaha membenci Islam. Bentuk-bentuk partai-partai kebangsaan di Indonesia memiliki pola yang sama dengan partai-partai yang ada di Perancis, buatan Gerakan Freemasonry.

Ki Hajar Dewantara yang dianggap sebagai tokoh nasional, dalam kiprahnya di dunia pendidikan di Indonesia, ternyata telah memasukkan faham-faham Freemasonry kepada anak didiknya. Beliau telah menamkan bibit kebencian terhadap Islam pada lembaga pendidikan Taman Siswa. Dengan berbagai usaha, beliau telah menanamkan fondasi sekularisasi pada anak didik, antipati terhadap Islam, menolak diberlakukannya pendidikan agama dengan menggantinya dengan pola pendidikan moral hasil rekayasanya, menolak adanya Allah sebagai Mahapengatur dengan menyebutnya sebagai “kodrat alam”. Demikianlah, dalam kiprahnya ternyata Taman Siswa telah berusaha menjauhkan anak didik yang beragama Islam dari agamanya sendiri. Dengan cara demikian, terjadilah sekularisasi, munculnya anak didik yang acuh tak aculn terhadap agamanya, muncullah generasi yang menganggap bahwa semua agama itu baik dan sama saja.
Belanda, pada awal penjajahannya, telah berusaha melumpuhkan Islam dengan cara-cara yang ditempuh oleh Gerakan Freemasonry. Diberinya surat pengangkatan bagi ulama-ulama tertentu. Kita mengenal beberapa ulama yang mendapat surat pengangkatan semisal Khalifah Apo, Hasan Mustafa, Husein Djajadiningrat, dan lainnya. Ditetapkannya buku-buku yang harus diajarkan kepada anak didik, yang itu terbatas hanya masalah rukun iman dan rukun Islam, yang ditambahi dengan hikayat-hikayat yang penuh takhyul. Ia melarang buku-buku yang dapat membangkitkan perlawanan dan semangat jihad kaum Muslimin. Dalam usahanya mengendalikan umat Islam Indonesia, penjajah Belanda mengangkat beberapa orang keturunan Yahudi Belanda, semisal Gobe, Snouck Horgronje, Van der Plass dan lain-lain. Van der Plass, misalnya, ia dengan kejam telah membantai puluhan ribu kaum Muslimin Aceh yang mengadakan perlawanan terhadap Belanda.

Organisasi Islam pertama sekali yang teratur adalah Syarikat Dagang Islam (SDI) yang berdiri tahun 1905. Tujuan pertamanya adalah untuk bersatu-padu dalam dunia perdagangan untuk melawan dominasi etnis Cina yang mendapat dukungan penuh dari Belanda. Namun nama ini kemudian berubah menjadi Syarikat Islam (SI).

SI inilah yang bergerak di lapangan politik. Tahun 1914, oleh Belanda didatangkan ke Semarang orang-orang Sosialis yang sekaligus sebagai aktifis Gerakan Freemasonry Belanda. Mereka itu adalah HW Dekker, HMM Sneevliet, J.A. Brandsteder, dan P. Bregsma. Kedatangan mereka ini sengaja untuk menghancurkan SI. Kemudian mereka mendirikan Indische Sociaal Democratiesche Vereniging (ISDV). Selama tiga tahun Gerakan Freemasonry berusaha membuat jaringannya di dalam tubuh SI. Tahun 1917, jaringan tersebut mulai bergerak. Tahun 1918, SI berhasil mereka pecah dalam dua aliran. Muncullah SI Asli, yang tetap mempertahankan Islam sebagai asas; dan SI hasil rekayasa Gerakan Freemasonry beserta unsur-unsur Marxisme. Inilah yang kemudian disebut sebagai SI Kiri atau SI Revolusioner Sosialis, yang dipimpin oleh Muso, Alimin, Samaun, Tan Malaka, dan lain-lain.

Tahun 1920, ISDV yang disetir oleh Gerakan Freemasonry Belanda, sengaja memecahkan diri menjadi Indische Sociaal Democratiesche yang merupakan aliran kanan, dan aliran kiri yang menyatukan diri dengan SI Kiri yang akhirnya melahirkan “Syarikat Merah” (SI Merah). Dalam proses kaderisasi, SI Merah ini pernah mengirimkan utusannya ke Moskow dalam usaha mereka membentuk apa yang dinamakan “Komintern” (Komunisme Internasional) yang pusatnya di Kremlin (Moskow). Dari hubungan seperti itulah akhirnya di Indonesia pada tanggal 23 Mei 1920 terbentuk Partai Komunis Indonesia (PKI) di bawah pimpinan Samaun, Darsono, dengan sekretaris partai adalah P. Bregsma, Bendahara partai adalah H.W. Dekker, serta salah seorang anggota terasnya adalah J.A. Brandsteder dan Baars.

Tanggal 12 Nopember 1926, muncul pula Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Gerindo. PNI ini memiliki asas yang disebut Marhaenisme. Nama ini berasal dari nama seorang petani di Bandung, yaitu Marhaen. Tetapi sesungguhnya, nama tersebut berarti juga sebagai singkatan dari Marxisrne, Hegelisme dan Nasionalisme.

Pada masa itu, muncul dengan subur berbagai pergerakan kebangsaan. Timbullah berbagai perdebatan antara tokoh-tokoh kebangsaan dengan tokoh-tokoh Islam. Mereka yang berkiprah di dalam wadah kebangsaan sering sekali menghina Islam. Kaum Nasionalis menolak paham Islam di dalam wadah apapun, walaupun kebanyakan dari mereka mengaku beragama Islam. Mereka menganggap bahwa Islam itu tidak lebih hanyalah semacam adat istiadat kepercayaan yang berasal dari Arab. Bahkan pernah di antara mereka mengatakan bahwa Digul (tempat pembuangan kaum pergerakan) lebih baik daripada kota Makkah.
Soekarno dalam semangat juangnya, mempunyai keinginan meniru jejak Mustafa Kamal Attaturk, anggota Gerakan Freemasonry Turki, seorang yang berhasil menjungkirkan Kekhilafahan Islam yang terakhir dengan segala tipu-dayanya. Soekarno dalam berbagai tulisannya sering memuji pemimpin Turki yang telah menghancurkan Islam itu. Ia pada satu sisi menerima Islam yang dibawakan oleh almarhum Ustadz Hassan bin Ahmad (Hassan Bandung). Namun di sisi lain, ia tidak ingin Islam dijadikan sebagai asas negara. Soekarno dalam berbagai tulisannya tahun 1927, ia merintis adanya penyatuan paham Nasionalisme, Islam dan Marxisme. Ia berangan-angan adanya istilah Nasakom (Nasionalis, agama dan Komunisme) di dalam negara Indonesia.

Demikianlah perilaku kaum pergerakan kebangsaan di Indonesia. Jika kita teliti gerak, ucapan maupun berbagai tulisan mereka, ternyata mereka (sadar maupun tidak) telah menjadi alat pelaksana program-program Gerakan Freemasonry di Indonesia.

Dalam kiprahnya untuk memperbesar diri, PKI memecah-mecahkan dirinya menjadi berbagai organisasi, selain PKI sendiri, yang kelak nantinya menjadi kaki tangannya PKI. Pecahan-pecahan PKI itu antara in adalah:
  1. Partai Kornunis Indonesia (PKI)
  1. Partai Musyawarah Rakyat Banyak (MURBA) yang dipimpin oleh Ibrahim Tan Malaka. Partai ini mempunyai asas yang disebut “Madilog” (Materialisme, Dialektika dan Logika).
  1. Partai Buruh Indonesia
  1. Partai Sosialis Indonesia (PSI). Partai ini dipimpin oleh Syahrir.
  1. Angkatan Komunisme Muda
  1. Dan lain-lain.
Pada masa penjajahan Jepang, semua kegiatan partai dan organisasi sosial seperti beku. Namun mulai tahun 1945, semuanya bergerak kembali dengan membentuk pasukan masing-masing.

Tanggal 13 Agustus 1948, berdiri Front Demokrasi Rakyat, salah satu bagian dari PKI, yang dipimpin oleh Muso, Maruto, Darusman, Tan Ling Jie, Ngadiman, Cokronegoro, Sutrisno dan Aidit. Melalui wadah ini mereka beraksi menuntut agar Kabinet Hatta diganti dan tentara harus dipimpin oleh kader-kader yang progresif nasional.

Tanggal 18 September 1948, timbullah pemberontakan PKI Madiun. Di wilayah ini mereka mendirikan Republik Rakyat Indonesia. Pada aksinya ini, mereka banyak membunuh lawan politiknya, banyak madrasah dan masjid dibakar serta ulama yang dijumpai mereka bunuh. Ketika pemberontakan ini berhasil dipadamkan dan dianggap selesai, Soekamo tidak membubarkan PKI. Angin ini memberi kesempatan kepada mereka untuk membangun kekuatannya kembali.

Keadaan Indonesia yang tidak stabil tersebut memang memberikan peluang yang beraneka bentuk bagi Gerakan Freemasonry. Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS) sampai menjadi Republik Indonesia (RI), Soekarno memegang kendali negeri ini sebagai presiden. Dengan kekuasaannya, ia ingin menyatukan paham politik yang bervisi besar, yang disebut gagasan Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunisme). Agar cita-citanya terlaksana, ia membubarkan Dewan Konstituante ketika suara Islam hampir menang. Ia menyuruh agar Indonesia kembali kepada Undang-undang Dasar 1945. Memang dengan cara demikian, Soekarno berhasil mengikis kekuatan Islam sedikit demi sedikit.

Soekarno membubarkan partai-partai politik yang menjadi saingan PKI dan partai-partai yang berasaskan nasionalisme. Misalnya ia membubarkan Partai Masyumi dengan alasan bahwa partai Islam ini terlibat pemberontakan PRRI dan Permesta. Dengan cara-cara demikian, Nasakom berdiri dengan mudah. Hubungan dengan negeri-negeri Komunis semisal Cina dan Soviet terus ditingkatkan. Bahkan ia bercita cita menyatukan Indonesia, Malaysia , Timor Timur, Brunei, Kamboja dan Thailand menjadi sebuah negara federasi. Melalui hubungan-hubungan dengan negeri-negeri Komunis itu, terbentuklah poros Jakarta-Hanoi-Pyongyang-Peking (Beijing).

Tahun 1965 meletuslah pernberontakan Gestapu PKI yang dibantu oleh sebagian dari orang-orang yang ada di dalam wadah PNI, Partindo dan Baperki. Dalam makar itu, tujuh orang jenderal TNI mereka bunuh. Karena diduga bahwa mereka itu adalah anak buahnya Syahrir, Soekarno acuh tak acuh.
G~30-S PKI akhirnya menjatuhkan Soekarno. Dengan berbagai trik yang jitu, Soeharto muncul ke panggung politik Indonesia. Walaupun ketika pembersihan PKI dilakukan dengan memakai tangan-tangan orang Islam namun tokoh-tokoh Islam kalah siasat. Akibatnya, Orde Baru dikuasai oleh kaum nasionalis-sosialis yang antipati terhadap Islam. Mereka mengikis peran Islam, sedikit demi sedikit, misalnya dengan mengeluarkan undang-undang dan peraturan yang mempersempit ruang gerak kaum Muslimin.

Keadaan tersebut memungkinkan munculnya Gerakan Freemasonry dengan segala bentuk dan kiprahnya. Dengan adanya angin yang diberikan oleh pemerintah Orde Baru, mereka mendirikan markasnya di Jakarta dalam bentuk lembaga penasehat pemerintah dari segi strategi nasional. Kemudian muncullah bentuk-bentuk Gerakan Freemasonry semisal Lions Club dan Rotary Club. Lewat lobi-lobi yang mereka lakukan, pemerintah Indonesia berhasil dipengaruhi. Salah satu usul mereka yaitu usaha menyatukan partai-partai Islam ke dalam sebuah wadah (yaitu Partai Persatuan Pembangunan – PPP) dan melarang berasaskan Islam, berbagai tabligh dikekang, muncullah organisasi Islam tandingan yang dihimpun di dalam Golongan Karya (Golkar). Aliran kepercayaan diberi tempat. Bahkan disahkan ke dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Padahal semua aliran kepercayaan ini berpedomankan Tri Ratna, yaitu bertuhan tanpa agama, bertaqwa tanpa syara’ dan memiliki wangsit (wahyu) tanpa perlu adanya Nabi.

Gerakan Freemasonry Indonesia mengadakan musyawarah tanggal 16 September 1972 di Singapura. Hasil musyawarah itu mereka namakan : “Panca Karsa Utama”, yaitu:
  1. Wahana Tanpa Daya. Semua partai politik di Indonesia dibuat hanya nama saja tanpa boleh memiliki kekuatan fisik maupun pengaruh.
  1. Triyana Tunggal Sila. Semua parpol harus berasaskan Pancasila. Partai Islam, Katholik, Protestan, harus lenyap, agama dilarang mewarnai panggung politik. Semua partai harus dihimpun ke dalarn tiga partai saja (PPP, PDI dan Golkar) dengan satu asas dan tujuan.
  1. Sirna Sangga Kawasa Nagara. Semua organisasi massa harus berasaskan dan bertujuan tunggal. Pancasila harus bersifat terbuka tidak boleh membeda-bedakan agama. Sebab bila membeda-bedakan agama itu berarti sikap terbelakang dan menghambat pembangunan. Semua organisasi keagamaan harus dihilangkan. Semua istilah Islam dan kearab-araban harus dikikis (nama-nama Islam, dan perilaku Islami, misalnya pemakaian jilbab).Keberadaan aliran kepercayaan diperkuat. Zakat fitrah digiatkan untuk kepentingan pembangunan sekularisasi. Perlu diadakan berbagai musabaqah dari tingkat RT sampai nasional dengan tujuan meninabobokan umat Islam, dan agar uang umat Islam tidak dipergunakan untuk kepentingan dakwah dan tabligh.
  1. Bhinneka Agama Miraga Tunggal. Semua agama diharapkan mengadakan fusi menjadi satu dalam tempat ibadah tunggal, yang dinamakan Wisma Bhakti Pancasila. Dalam hal ini, membeda-bedakan agama perlu dilarang ketat (perlu dibuat aturan Suku, Agama, Ras -SARA). Juga perlu dibuat perkuburan yang tidak membeda-bedakan agama (disatutempatkan).
  1. Nagara Utama. Terwujudnya negara Indonesia yang subur, makmur, dengan berasas tunggal, berkepercayaan tunggal, berbahasa tunggal dan bersuku tunggal, dengan cara menjalankan pembauran di segala bidang (kebangsaan, kesukuan dan keagamaan).
Inilah cita-cita Gerakan Freemasonry. Dengan sistematis mereka berusaha untuk mewujudkannya sampai semuanya mereka kuasai. Mereka menghendaki agar jamaah kaum Muslimin hilang dari bumi Indonesia. Dengan demikian, maka hilang pulalah umat Islam, hilang pula kekuatannya.

Dinukil dari buku Abdullah Pattani, “Tipu Daya Freemasonry di Asia Tenggara”, Thailand: Haji Ali bin Haji Sulong Press, 1414 Hijriyah

Sumber : Islam Pos
Bagikan Artikel Ini :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. AL-IKHWAN17 - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger