Headlines News :

Yvonne Ridley Mengenal Islam Dari Taliban

Diposkan Oleh Muhammad Zaki on Selasa, 27 November 2012 | 21.52

APA YANG ANDA rasakan jika ditawan atau ditangkap musuh? Mungkin susah untuk membayangkan nasib anda akan berakhir pada sebuah kebahagiaan. Apalagi, jika menghadapi tuduhan sebagai mata-mata, penyusup, dan lain sebagainya.

Namun, tidak demikian dengan apa yang dirasakan Yvonne Ridley, wartawati Inggris. Perempuan paruh baya ini justru mengaku bahagia setelah ditangkap dan diinterogasi pasukan Taliban yang oleh media masa Amerika Serikat, digambarkan sebagai kelompok Islam garis keras dan kejam.

Ridley yang bekerja sebagai wartawan Sunday Express , surat kabar terbitan Inggris, pada September 2001 lalu diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afghanistan untuk melakukan tugas jurnalistik. Saat itu, perempuan kelahiran tahun 1959 di Stanley, Inggris, ini mencoba menyusup ke Afghanistan secara ilegal, tanpa paspor maupun visa.

Ridley yang kerap ditugaskan ke daerah-daerah konflik di dunia ini, tertangkap basah di sebelah timur Kota Jalalabad. Penyamarannya terungkap ketika ia jatuh dari seekor keledai persis di depan seorang tentara Taliban dan kameranya jatuh. Saat ditangkap, Ridley tengah mengenakan  burqa , sejenis busana Muslimah tradisional Afganistan.

Saat ditangkap, ketakutan mulai merayapi Ridley. Ia mulai diinterogasi selama 10 hari tanpa diperbolehkan menggunakan telepon ataupun menghubungi anak perempuannya yang sedang berulang tahun ke-9.

Selama menjalani proses interogasi, Ridley mengaku tidak menyetujui apa yang dilakukan oleh kaum Taliban ataupun apa yang mereka percayai sebagai ‘kebenaran’. Awalnya, bagi Ridley, Taliban sama seperti yang digambarkan media massa Eropa maupun Amerika bahwa kelompok Islam ini disebut sebagai teroris.

Namun, perlakuan yang diterima Ridley selama menjalani masa penahanan dan interogasi justru mengubah semua pandangannya mengenai orang-orang Taliban. Menurutnya, anggapan umum kaum Taliban yang selama ini digambarkan sebagai monster sangat jauh dari realitas. Ridley menilai bahwa orang-orang Taliban adalah orang-orang yang baik dan mereka sangat ramah. Pengalaman saat ditangkap pasukan Taliban, justru membuatnya mengenal Islam lebih dalam. Dengan bersentuhan langsung dengan kelompok Taliban, Ridley merasakan suatu keganjilan terhadap apa yang di tuduhkan media masa terhadap Taliban. Ridley menyebut kelompok yang oleh banyak negara dicap sebagai teroris ini sebagai keluarga terbesar dan terbaik di dunia.

Dalam jumpa pers yang digelar di Peshwar seusai pembebasannya, Ridley menuturkan bahwa selama dirinya ditahan, secara fisik ia tak pernah diperlakukan dengan buruk oleh Taliban. Bahkan, perlakuan yang diterimanya tergolong cukup istimewa.

Di dalam tahanan, Ridley dipisahkan dengan penghuni lainnya, termasuk para tahanan wanita. Selain itu, secara khusus, ruang tahanannya telah dibersihkan dari segala gangguan kecoa dan kalajengking.

Atas pengakuan Ridley ini, banyak pihak yang mengatakan ibu dari seorang putri bernama Daisy ini terkena  Sindrom Stockholm , di mana sandera malah kemudian memihak penyandera. Tetapi Ridley membantahnya.
Dalam sebuah wawancara kepada situs Islamonline, Ridley mengungkapkan saat menjadi tawanan Taliban, seorang ulama mendatangi dirinya. Sang ulama menanyakan beberapa pertanyaan tentang agama dan menanyakan apakah ia mau pindah agama.

Saat itu, Ridley takut salah memberikan respons, ia takut dibunuh. Setelah berpikir masak-masak, Ridley berterima kasih pada ulama tadi atas tawarannya yang baik itu. Akhirnya dia mengatakan kepada ulama tadi bahwa sulit baginya membuat keputusan untuk mengubah hidupnya saat sedang menjadi tawanan. Kepada sang ulama, Ridley berjanji akan mempelajari agama Islam setelah dibebaskan dan kembali ke London.
Dengan pernyataan tersebut, akhirnya Ridley dibebaskan.

Begitu kembali ke Inggris, Ridley membaca Alquran melalui terjemahannya. Ia mencoba memahami pengalaman yang baru dilewatinya.

Setelah membaca Al-Qur’an, hatinya luluh dan takjub. Ia benar-benar takjub karena Tak ada satu pun yang berubah dari isi Al-Qur’an ini, baik titik-titinya maupun yang lainnya sejak 1.400 tahun yang lalu.

Ketika mempelajari Islam, Ridley sangat mengagumi hak-hak yang diberikan Islam pada kaum perempuan dan inilah yang paling membuat dirinya tertarik pada Islam. Dalam buku yang ia tulis setelah pembebasannya, Ridley menceritakan bahwa dirinya juga sempat menemui Dr Zaki Badawi, ketua Islamic Centre London, dan berdiskusi dengannya seputar ajaran Islam.

Dari sinilah Ridley memutuskan untuk memilih Islam sebagai keyakinan barunya. Proses keislaman Ridley ini terjadi pada tahun 2003 silam. Mengenai pilihannya ini, Ridley mengungkapkan bahwa dirinya telah bergabung dengan apa yang ia anggap sebagai keluarga terbesar dan terbaik yang ada di dunia ini (Taliban).

Mengingat orang tua Ridley yang beragama Protestan Anglikan, awalnya  keluarga juga teman-temannya khawatir dengan keyakinan barunya. Namun melihat kebahagiaan Ridley setelah masuk Islam, keluarga dan teman-temannya pun dapat menerima dia. Terlebih lagi ibu Ridley yang sangat bahagia karena setelah masuk Islam, Ridley meninggalkan kebiasaan lamanya yaitu meminum minuman keras.

Setelah memeluk Islam, Ridley juga memutuskan untuk mengenakan baju Muslim dan jilbab dan masih menjalankan profesinya sebagai seorang wartawan. Dedikasi Ridley sebagai wartawan memang tak diragukan lagi. Ia ini pernah bekerja pada sederet media bergengsi, seperti  News of the World, The Daily Mirror, The Sunday Times, The Observer, The Independent, dan  Sunday Express.

Redaktur  Sunday Express , Martin Townsend, pernah mengungkapkan komentarnya mengenai Ridley, mengatakan bahwa Ridley adalah seorang jurnalis yang sangat berpengalaman dan berani. Selain itu, Colin Patterson, wakil redaktur dari  Sunday Sun, menyebut Ridley sebagai pribadi yang hangat dan bersahabat.
Pasca tragedi Lockerbie sembilan tahun lalu, Ridley adalah wartawan pertama yang berhasil mewawancarai Ahmad Jibril, pemimpin populer Front for the Liberation of Palestina (Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina).

Lagu Cinta Yang Bermasalah Secara Aqidah

SETIDAK akrab apapun Anda dengan lagu-lagu dan musik, tentunya—paling tidak—pernah mendengar lagu “Everything I Do (I Do It For You)”-nya Bryan Adams. Ini memang lagu lama memang, dirilis sekitar 21 tahun yang lalu sebagai soundtrack film Robin Hood versi Kevin Costner “Prince of Thieves”. Lagu ini, hampir bisa ditemukan dimana saja di televisi, di mall, di jalanan, atau di pertokoan, atau dimana saja.

Dengan balutan piano yang mendominasi, sesekali ditingkahi oleh sayatan gitar yang mengiba, lagu ini tak pelak menjadi all-times-heard song (lagu yang bisa didengarkan setiap waktu), tak mengenal usia dan zaman. Dari anak baru gede sampai orang-orang tua. Yang baligh di era awal 90-an, tentunya merasa paling memiliki terhadap lagu ini.

Bahkan, di sebuah desa yang terletak di pinggiran di Indonesia, seorang bapak yang usianya mencapai 50 tahunan, bisa kita temukan tengah mendengarkan lagu ini, di pinggir sawah. Padahal, kemungkinan, bisa jadi ia tidak paham apa arti lagu ini.

Lihatlah beberapa penggal lirik lagu penyanyi asal Kanada ini:
Look into my eyes, you will see
What you mean to me
Search your heart, search your soul
And when you find me there you’ll search no more

Don’t tell me it’s not worth tryin’ for
You can’t tell me it’s not worth dyin’ for
You know it’s true
Everything I do, I do it for you


Anak-anak muda menyebutnya “hatiku bisa melting denger syair ini,” dan membuat anak-anak gadis remaja galau seraya berujar “so sweeeet”.

Simak syair di bawah ini, masih berasal dari lagu tersebut:
Oh, you can’t tell me it’s not worth tryin’ for
I can’t help it, there’s nothin’ I want more
Yeah, I would fight for you, I’d lie for you
Walk the wire for you, yeah I’d die for you


Ada kata-kata yang sangat bermasalah di sini. Ungkapan “I’d die for you” betul-betul diartikan secara harfiah, dan tak bisa lagi diartikan yang lain. Sejak dari awal, lagu ini sudah menggiring orang membuat persepsi antara seorang perempuan dan seorang laki-laki, dan begitu pula sebaliknya. Lagu ini juga tak bisa diartikan sebagai lagu cinta kepada orang tua atau keluarga, dan sudah sangat defensif antara lawan jenis.

Dalam Islam, tentunya ini patut kita garis bawahi. Seperti yang kita pahami bersama, bahwa hidup dan mati kita seorang Muslim tentunya harus berada dalam koridor ibadah kepada Allah SWT. Apalah arti hidup kita jika beribadah seumur hidup, namun kemudian di akhir hayat, kita berakhir dalam keadaan suul khatimah? Apa jadinya gerangan jika ketika kita mati, kita tidak berada dalam keadaan Islam?

Mungkin ada dalih, “ah inikan cuma lagu”, “helloooow? Inikah lagu Barat, yang nyiptain juga orang Barat yang bukan Muslim”. Justru di sinilah letaknya. Sebuah lagu, dalam bentuknya yang lain, adalah doktrin paling kuat dibandingkan yang lainnya. Apalagi jika diulang-ulang. Lihatlah, betapa fanatiknya Slankers terhadap Slank dan komunitas Orang Indonesia (OI) terhadap Iwan Fals. Bayangkan jika lagu ini dihayati dan diamalkan oleh anak-anak muda di sekeliling kita, anak-anak kita, remaja-remaja Islam. Mereka dangkal akan aqidahnya, dan menganggap hal-hal yang mungkin membatalkan Syahadat sebagai sesuatu yang biasa saja.

Di sekeliling kita, bukan hanya lagu ini saja. Ada ribuan lagu cinta yang beredar yang menunjukkan sebuah penghambaan kepada lawan jenis—dalam beberapa lagu bahkan bukan cuma lawan jenis, tapi sudah pada sesame jenis, seperti lagu-lagu Elton John dan George Michael yang merupakan homo. Setiap hari, generasi muda kita, remaja Islam, dilindas dengan bebas, tanpa ada filter sama sekali. Kita bisa memulainya terhadap diri kita sendiri, dan sekeliling kita. Mungkin anak kita, adik, ataupun anak tetangga kita.

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. 163. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah),” (QS Al-An’am : 162-163).

Sumber : Islam Pos

RASULULLAH MENIKAH SECARA KRISTEN DI GEREJA?

(Menjawab Tudingan Misionaris JIL dan Penginjil Kristen)

Oleh: A. Ahmad Hizbullah M.A.G.

[www.kristenisasi.wordpress.com, ahmadhizbullah@gmail.com]
Setali tiga uang!! Itulah misi yang diusung oleh para misionaris JIL –kelompok jaringan liberal berkedok Islam– dan penginjil Kristen. Hal ini nampak nyata dengan banyaknya persamaan jurus ketika mereka menggugat Islam baik kesucian Rasulullah, otentisitas Al-Qur’an wahyu Allah, validitas hadits Nabi, maupun keagungan syariat Islam. Salah satu objek yang tak pernah surut dari hujatan para misionaris JIL dan penginjil Kristen adalah soal pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah bintu Khuwailid. Dua sosok yang getol melancarkan tuduhan ini adalah Mohamad Guntur Romli dan Pendeta Muhamad Nurdin.
Mohamad Guntur Romli, salah seorang punggawa JIL menuding pewahyuan Al-Qur’an adalah proses kolektif, baik sumber maupun proses kreatifnya.
Menurutnya, Al-Qur’an adalah kitab saduran yang menyunting (mengedit) keyakinan dan kitab suci Kristen sekte Ebyon, yang disesuaikan dengan kepentingan penyuntingnya. Salah satu kepentingannya adalah karena kedekatan Nabi Muhammad dengan Waraqah bin Naufal, seorang rahib Kristen Ebyon, yang memiliki jasa besar dalam menikahkannya dengan Khadijah.
Berikut tuduhan Guntur:

.
“Bukti lain bahwa Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya adalah kisah tentang Nabi Isa (Yesus Kristus). Sekilas kita melihat bahwa kisah Nabi Isa dalam Al-Quran berbeda dengan versi Kristen. Dalam Al-Quran, Isa (Yesus) hanyalah seorang rasul, bukan anak Allah, dan akhir hayatnya tidak disalib. Sementara itu, dalam doktrin Kristen, akhir hidup Yesus itu disalib, yang diyakini untuk menebus dosa umatnya.
Ternyata kisah tentang tidak disalibnya Nabi Isa juga dipengaruhi oleh keyakinan salah satu kelompok Kristen minoritas yang berkembang saat itu, yakni sekte Ebyon. Bagi kelompok Kristen mayoritas yang menyatakan Isa (Yesus) mati disalib, sekte Ebyon adalah sekte Kristen yang bidah…
Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Al-Quran lebih memilih pandangan Ebyon yang minoritas dan keyakinannya dianggap bidah oleh mayoritas Kristen waktu itu? Saya memiliki dua asumsi. Pertama, karena pandangan Ebyon ini lebih dekat dengan akidah ketauhidan Islam. Kedua, sepupu Khadijah bernama Waraqah bin Naufal adalah seorang rahib sekte Ebyon. Kedekatan Waraqah dengan pasangan Muhammad–Khadijah diakui oleh sumber-sumber Islam, baik dari buku-buku Sirah (Biografi Nabi Muhammad), seperti Sirah Ibn Ishaq dan Ibn Hisyam, ataupun buku-buku hadis standar: Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain.
Waraqah adalah wali Khadijah yang menikahkannya dengan Muhammad. Seorang perempuan kali itu –yang kemudian dilanjutkan oleh syariat Islam– tidak bisa menikah tanpa seorang wali laki-laki. Bisa dibayangkan kedekatan Waraqah dengan Khadijah dan Muhammad.
Kesimpulan saya sementara kisah Isa (Yesus) dalam Al-Quran, yang menegaskan bahwa Isa hanyalah seorang rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah “saduran” dari keyakinan sebuah sekte Kristen: Ebyon.” (Pewahyuan Al-Qur’an: Antara Budaya dan Sejarah,” (http://www.korantempo.com/).
.

Tudingan Guntur itu bukan hal yang baru dalam daftar gugatan para musuh Islam. Jauh sebelumnya, tudingan yang sama dilontarkan oleh Pendeta Muhammad Nurdin –anggota WASAI/TAZI Lembaga Alkitab Indonesia– dengan dosis yang lebih tinggi. Dalam buku-buku kristenisasi berkedok Islam yang ditulisnya, Nurdin menuding Rasulullah sebagai orang yang banyak berhutang budi kepada Kristen karena sebelum jadi nabi, Muhammad menikah dengan Khadijah, seorang wanita Kristen yang taat ke gereja. Prosesi pernikahan Muhammad dengan Khadijah dilangsungkan dengan tatacara ritual Kristen, di mana yang bertindak sebagai wali nikah adalah pastur besar bernama Romo Waraqah bin Naufal. Maka dalam khutbah nikah tersebut Romo Waraqah membacakan ayat-ayat Taurat dan Injil. Tak lupa, Romo Waraqah menghadiahkan kado nikah kepada Muhammad berupa sebuah Alkitab (Bibel). Setelah menikah, selama 15 tahun Muhammad kursus Alkitab (Bibel) bersama Khadijah. Atas dasar itulah, maka Nurdin menyimpulkan bahwa Muhammad pernah beribadah secara Kristen di gereja selama 15 tahun bersama Khadijah dan pamannya, Romo Waraqah bin Naufal.
.
“Bila pamannya Siti Khadijah yaitu Waraqah bin Naufal, faham akan Taurat dan Injil, beliau adalah seorang Pendeta besar, atau seorang Pastur besar atau seorang Penginjil besar dan pada pernikahan Muhammad SAW dan Siti Khadijah tentulah beliau bertindak sebagai Wali atau Penghulu pada waktu itu, dan menyampaikan Firman Allah yaitu Taurat dan Injil, agama Yahudi dan Nasrani, karena agama Islam dan Alquran belum ada pada waktu itu” (Keselamatan Didalam Islam, hlm. 24).
“Pada waktu pernikahan berlangsung antara Muhammad SAW dengan Siti Khadijah seorang Nasrani, dan pasti hadiah Waraqah bin Naufal sebagai seorang Pendeta atau Pastur adalah sebuah Alkitab. Dan tentu Muhammad SAW selama 15 tahun bersama istrinya Siti Khadijah mempelajari Alkitab” (Keselamatan Didalam Islam, hlm. 53).
“Istri beliau Siti Khadijah beragama Kristen Nasrani dan paman beliau Waraqah bin Naufal adalah pendeta bersama pendeta alim Buhaira namanya, dan umat pada waktu itu adalah semua umat Kristen Nasrani yang beribadah tentu di gereja, karena masjid pada waktu itu belum ada” (Ayat-ayat Penting di dalam Al-Qur’an, hlm. 68).
“Pada waktu Muhammad SAW berumur 25 tahun beliau menikah dengan Khadijah yang beragama Nasrani. Dan pada waktu itu Muhammad SAW berumur 40 tahun beliau bertahanuts menyendiri. Bila demikian Muhammad SAW telah bersama istrinya selama 15 tahun, beliau tentu beribadah bersama istrinya dan pamannya Waraqah bin Naufal dan Pendeta Buhaira yang mana tentu Muhammad SAW ikut beribadah Nasrani dan beliau bertahanuts menyendiri dengan segala bekal dan pelajaran Alkitab, Taurat dan Injil” (Keselamatan Didalam Islam, hlm. 35).
.
Sebenarnya, pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah sudah lama jadi primadona bagi para misionaris JIL dan Kristen untuk menyengat akidah Islam. Tetapi lemahnya validitas data menjadikan tulisan mereka bernilai tak lebih dari sebuah “teologi imajiner.” Karenanya, kita tidak butuh rekayasa dan dugaan-dugaan untuk membantah tuduhan-tuduhan itu, karena sejarahlah yang otomatis menjawabnya:


Pertama, Khadijah bintu Khuwailid memang memiliki saudara sepupu –bukan paman seperti anggapan Pendeta Nurdin– seorang rahib bernama Waraqah bin Naufal. Tapi Waraqah bukanlah orang yang menikahkan Khadijah dengan Muhammad. Kitab-kitab sejarah Nabi mencatat bahwa yang meminang Khadijah adalah paman Muhammad yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib. Lalu yang menikahkan Muhammad dengan Khadijah adalah paman Khadijah yang bernama ‘Amru bin Asad, sedangkan yang memberikan khutbah nikah adalah Abu Thalib, paman Muhammad. Maharnya pun bukan Alkitab (Bibel), tapi 20 ekor unta. (lihat: As-Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, juz I, hlm. 201).


Kedua, Fakta-fakta ini sekaligus menampik tudingan Pendeta Nurdin bahwa pernikahan Muhammad dihiasi dengan khutbah ayat-ayat Alkitab (Bibel) yang disampaikan oleh Pastur Waraqah bin Naufal.


Ketiga, fakta bahwa yang menikahkan Muhammad dengan Khadijah adalah paman Khadijah yang bernama ‘Amru bin Asad, ini harus digarisbawahi oleh Guntur Romli. Karena dengan fakta ini, maka tudingannya terhadap Nabi Muhammad sebagai orang yang menyadur kisah-kisah Bibel sebagai balas jasa terhadap rahib Waraqah yang menikahkannya dengan Khadijah, terbantah secara otomatis.


Keempat, Tuduhan bahwa  Muhammad menikahi Khadijah dengan tatacara Kristen karena pada waktu itu Islam belum ada karena Muhammad belum menjadi Nabi, ini adalah logika kelirumologi yang naif.
Untuk menganalisa ritual pernikahan yang dipakai oleh Muhammad dan Khadijah, kita tidak perlu repot-repot dan merekayasa tatacara pernikahan yang diterima oleh bangsa Arab pada waktu itu. Bangsa Arab pada waktu itu masih mengikuti adat-istiadat yang diwarisi turun-temurun dari syariat Nabi Ibrahim yang hanif. Hal ini terbukti, mereka masih melaksanakan syariat khitan dan menghormati Ka’bah yang didirikan oleh Nabiyullah Ibrahim dan putranya, Ismail alaihissalam. Secara historis, bangsa Arab adalah keturunan Ibrahim melalui Ismail yang menikahi penduduk Mekkah dari suku Jurhum yang berasal dari Yaman. Keturunan Ismail inilah yang beranak-pinak di Mekkah yang disebut sebagai Bani Ismail atau Adnaniyyun.


Sampai zaman Muhammad belum diangkat Allah sebagai Nabi, bangsa Arab meyakini bahwa pemeliharaan serta kepemimpinan dalam upacara keagamaan di depan Ka’bah itu adalah hak Bani Ismail. Salah satu pemimpin kabilah Quraisy dari keturunan Ismail adalah Qushaiy.


Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa satu-satunya syariat yang diterapkan dalam pernikahan Muhammad dengan Khadijah adalah syariat hanif Nabi Ibrahim.


Kelima, Anggapan Pendeta Nurdin bahwa Khadijah adalah seorang Kristen yang aktif di gereja, tentu tidak bisa dipertanggungjawabkan, karena dia tidak mencantumkan satu referensi pun dalam tulisannya. Untuk mengetahui dengan pasti apa agama yang dianut Khadijah pada waktu itu, sebaiknya Nurdin membaca buku Khadijah: Drama Cinta Abadi Sang Nabi tulisan Dr Muhammad Abduh Yamani. Berdasarkan sumber-sumber yang terpercaya, buku ini menyimpulkan bahwa Khadijah bukan seorang Kristen, melainkan penganut agama Ibrahim alaihissalam (Al-Hanif) yang mendapat gelar “Ath-Thahirah” (perempuan suci).


Keenam, tudingan bahwa Rasulullah menyadur kisah-kisah Bibel sesuai dengan kepentingannya juga sangat rapuh. Hanya orang kafir saja yang pantas melakukan tudingan ini.
“Dan orang-orang kafir berkata: “Al-Qur’an ini tidak lain hanya­lah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain, maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar” (Qs Al-Furqan 4).


Tuduhan bahwa Nabi Muhammad menjiplak Bibel terbantah oleh kenyataan bahwa beliau adalah seorang nabi yang ummiy (buta aksara). Allah menegaskan hal ini dalam surat Al-‘Ankabut 48-49 dan Al-A’raf 157-158. Meski ditakdirkan sebagai seorang yang ummiy yang tidak bisa menyadur kitab-kitab terdahulu, tapi seluruh ayat Al-Qur’an tidak dapat diragukan, justru semakin terjamin otentisitasnya karena segala yang disampaikan Nabi Muhammad adalah wahyu (inspirasi) langsung dari Allah (Qs. An-Najm 3-5).


Salah satu buktinya adalah ayat Al-Qur’an:
“…Dan orang Nasrani berkata: “Al-Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.” (Qs. At-Taubah 30).


Ayat ini menyatakan bahwa doktrin ketuhanan Yesus (Trinitas) adalah doktrin yang menjiplak keyakinan orang-orang kafir (pagan) sebelumnya. Ternyata, sejarah membuktikan bahwa Trinitas Kristiani yang meyakini Tuhan ada 3 oknum: Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus adalah doktrin yang sudah ada jauh sebelum Kristen lahir ke dunia. Buktinya, di Mesir sudah Trinitas yang meyakini: Osiris, Horus dan Isis, masing-masing sebagai Tuhan Bapa, Anak dan Ibu. Horus diyakini sebagai juru selamat yang mati menebus dosa dengan darahnya, dikuburkan, kemudian jasadnya bangkit pada hari ketiga kemudian bangkit lagi.
Trinitas/Trimurti di India (Hindu), meyakini Tuhan terdiri dari tiga oknum (Trimurti), yaitu Brahma (Tuhan Bapa), Wisnu (Tuhan Pemelihara), dan Syiwa (Tuhan Pembinasa). Brahma mempunyai seorang anak yang tunggal yaitu Krisna yang dilahirkan di kandang sapi. Oknum ketiga dari Trimurti adalah Syiwa. Kepadanya sering dikorbankan beratus-ratus nyawa manusia. Tetapi, menurut pemeluk Hindu, nyawa-nyawa yang dikorbankan itu sesungguhnya adalah inkarnasi Syiwa sendiri.


Di Persia (Mitraisme), meyakini Mitra (dewa matahari) sebagai Juru selamat penebus dosa yang lahir dari seorang perawan pada hari Minggu tanggal 25 Desember. Hari Minggu mereka yakini sebagai hari suci, dalam perkembangannya, tradisi ini diabadikan sebagai hari suci untuk beribadah di gereja oleh umat Kristen. Sehingga hari Minggu disebut sebagai Sunday (hari Matahari).


Coba perhatikan, wahyu yang diterima Rasulullah menyatakan “yudhohi’una qaulalladziina kafaruu min qablu” (mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.” Sungguh tepat apa yang disampaikan oleh Nabi dengan sejarah yang sudah ada jauh sebelum beliau lahir. Padahal Rasulullah tidak pernah membaca buku-buku sejarah maupun enskiklopedi agama, karena beliau adalah seorang yang ummiy. Tidakkah hal ini direnungkan oleh para misionaris JIL dan Kristen?

Dahlan Iskan, Iran, dan Syi’ah

Dahlan Iskan, nama yang begitu santer belakangan ini karena sikap-sikap politisnya yang tidak wajar dan melabrak kemapanan. Namanya semakin populer setelah ia mendukung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Pemilu 2009 melalui jaringan media Jawa Pos miliknya. Ganjarannya, ia diangkat menjadi Direktur Perusahaan Listrik Negara.

Sebagai seorang jurnalis, Dahlan Iskan mampu menuliskan dengan apik berbagai pengalaman dan harapannya. Di seluruh jaringan media yang dimilikinya, saban pekan ia menulis kolom tentang “Pabrik Harapan”. Tulisannya tersebut memang mirip buku harian, tapi peminatnya ternyata sangat banyak.
Dahlan Iskan, yang pernah menjabat sebagai Presiden Lions Club Charter Surabaya ini, digadang-gadang akan menggantikan posisi Presiden SBY pada Pemilu 2014 mendatang sebagai presiden. Perlu diketahui, Lions Club merupakan salah satu organisasi yang berada di bawah kendali Freemasonry Internasional.
Dalam sebuah tugas dinasnya ke luar negeri tahun 2011 lalu, saat ia masih menjadi Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan menceritakan pengalamannya ke negeri Syiah Iran.

Masjid untuk Shalat Jum’at di Iran
“Kami mendarat di Bandara Internasional Imam Khomeini, Teheran, menjelang waktu salat Jumat. Maka, saya pun ingin segera ke masjid: sembahyang Jumat. Saya tahu tidak ada kampung di sekitar bandara itu. Dari atas terlihat bandara tersebut seperti benda jatuh di tengah gurun tandus yang mahaluas. Tapi, setidaknya pasti ada masjid di bandara itu. Memang ada masjid di bandara itu, tapi tidak dipakai sembahyang Jumat,” tulisnya.

Dahlan pun minta diantarkan ke desa atau kota kecil terdekat. Ternyata ia kecele. Di Iran tidak banyak tempat yang menyelenggarakan sembahyang Jumat. Bahkan, di kota sebesar Teheran, ibu kota negara dengan penduduk 16 juta orang itu, hanya ada satu tempat sembahyang Jumat. Itu pun bukan di masjid, tapi di Universitas Teheran. Dari bandara memerlukan waktu perjalanan 1 jam. Atau bisa juga ke kota suci Qum. Tapi, jaraknya lebih jauh lagi. Di negara Syiah Iran, Jumatan hanya diselenggarakan di satu tempat di setiap kota besar.

“Jadi, tidak ada tempat Jumatan di bandara ini?” tanya Dahlan.
“Tidak ada. Kalau kita mau Jumatan, harus ke Teheran (40 km) atau ke Qum (70 km). Sampai di sana waktunya sudah lewat,” katanya.

Salat Jumat ternyata memang tidak wajib di negara Iran yang menganut aliran Syiah itu. Juga tidak menggantikan salat Duhur. Jadi, siapa pun yang salat Jumat tetap harus salat duhur.

Ke Kota Suci Qum
Karena Jumat adalah hari libur, Dahlan tidak dijadwalkan rapat atau meninjau proyek. Maka, waktu setengah hari itu ia manfaatkan untuk ke kota Qum. Sepanjang perjalanan ke Qum tidak terlihat apa pun. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya  gurun, gunung tandus, dan jaringan listrik. Begitu juga letak kota suci Qum.

Jika umat Islam hanya mengenal 2 kota suci, yakni Makkah dan Madinah, kadangkala ditambah Yerusalem, maka Syiah memiliki kota-kota suci sendiri, misalnya kota suci Qum ini. Kota ini seperti berada di tengah-tengah padang yang tandus. Karena itu, bangunan masjidnya yang amat besar, yang berada dalam satu kompleks dengan madrasah yang juga besar, kelihatan sekali menonjol sejak dari jauh.

“Tujuan utama kami tentu ke masjid itu,” tulis Dahlan dalam memoarnya tersebut.
Inilah masjid yang luar biasa terkenalnya di kalangan umat Syiah. Kalau pemerintahan Iran dikontrol ketat oleh para mullah, di Qum inilah pusat mullah. Demokrasi di Iran memang demokrasi yang dikontrol oleh ulama. Presidennya dipilih secara demokratis untuk masa jabatan paling lama dua kali. Tapi, sang presiden harus taat kepada pemimpin tertinggi agama yang sekarang dipegang Imam Khamenei. Siapa pun bisa mencalonkan diri sebagai presiden (tidak harus dari partai), tapi harus lolos seleksi oleh dewan ulama.

Tapi, sang imam bukan seorang diktator mutlak. Dia dipilih secara demokratis oleh sebuah lembaga yang beranggota 85 mullah. Setiap mullah itu pun dipilih langsung secara demokratis oleh rakyat.

Wanita, Kerudung, dan Celana Ketat
“Saya memang kaget melihat kehidupan sehari-hari di Iran, termasuk di kota suci Qum,” papar Dahlan.
Banyak sekali wanita yang mengendarai mobil. Tidak seperti di negara-negara di jazirah Arab yang wanitanya dilarang mengendarai mobil. Bahkan, orang Iran  menilai negara yang melarang wanita mengendarai mobil dan melarang wanita memilih dalam pemilu bukanlah negara yang bisa menyebut dirinya negara Islam.

Dan lihatlah cara wanita Iran berpakaian. Termasuk di kota suci Qum. Memang, semua wanita diwajibkan mengenakan kerudung (termasuk wanita asing), tapi ya tidak lebih dari kerudung itu. Bukan jilbab, apalagi burqa. Kerudung itu menutup rapi kepala, tapi boleh menyisakan bagian depan rambut mereka. Maka, siapa pun bisa melihat mode bagian depan rambut wanita Iran. Ada yang dibuat modis sedikit keriting dan sedikit dijuntaikan keluar dari kerudung. Ada pula yang terlihat dibuat modis dengan cara mewarnai rambut mereka. Ada yang blonde, ada pula yang kemerah-merahan.

Bagaimana baju mereka? Pakaian atas wanita Iran umumnya juga sangat modis. Baju panjang sebatas lutut atau sampai ke mata kaki. Pakaian bawahnya hampir 100 persen celana panjang yang cukup ketat. Ada yang terbuat dari kain biasa, tapi banyak juga yang celana jins. Dengan tampilan pakaian seperti itu, ditambah dengan tubuh mereka yang umumnya langsing, wanita Iran terlihat sangat modis.

Apalagi, seperti kata orang Iran, di antara sepuluh wanita Iran, yang cantik ada sebelas! Sedikit sekali saya melihat wanita Iran yang memakai burqa, itu pun tidak ada yang sampai menutup wajah. Demikian tulisan Dahlan Iskan.

Shalat di Makam Fathimah
Sampai di kota Qum, sembahyang Jumatnya memang sudah selesai. Ribuan orang bubaran keluar dari masjid.

“Saya pun melawan arus masuk ke masjid melalui pintu  15. Setelah salat Duhur, saya ikut ziarah ke makam Fatimah yang dikunjungi ribuan jamaah itu,” kata Dahlan.

Makam itu berada di dalam masjid sehingga suasananya mengesankan seperti ziarah ke makan Rasulullah di Masjid Nabawi. Apalagi, banyak juga orang yang kemudian salat dan membaca Al Quran di dekat situ yang mengesankan orang seperti berada di Raudlah.

Embargo, Tapi Tetap Berdagang
Dahlan Iskan dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau perusahaan pembangkit listrik Iran di Asaleuyah. Mulai A hingga Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya.

Mesin-mesin Siemens lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawat sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemens dan GE. Bahkan, mereka sudah dipercaya Siemens untuk memasok ke negara lain.

“Anak perusahaan kami sanggup memelihara pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ.

Pabrik tersebut memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.

Bisnis kelihatannya tetap bisnis.

“Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Italia, Jerman, Swiss, dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin itu bisa mendapatkan lisensi dari Siemens,” tutur Dahlan.

“Rupanya, meski membenci Amerika dan sekutunya, Iran tidak sampai membenci produk-produknya….   Itu jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan, Coca-Cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga, Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada, dan seterusnya.”

Sumber : Fimadani

Bercermin dengan Yahudi

Oleh: Ahmad Sarwat, Lc., MA.

Salah satu musuh besar umat Islam adalah Yahudi. Berkali-kali ayat 120 surat Al Baqarah kita lantunkan atau kita dengar, yang isinya menegaskan bahwa Yahudi dan nasrani tidak akan rela kepada umat Islam sampai umat Islam mengikuti millah mereka.

Dan sampai hari ini, bangsa Indonesia sudah berhasil menempatkan posisi yang tepat terhadap proyek Yahudi di Palestina, dengan tidak membuka hubungan diplomatik dengan penjajah Israel. Sesuatu yang bahkan Mesir sebagai kekuatan real di tengah bangsa Arab malah belum mampu melakukannya. Mesir membuka hubungan diplomatik dengan Israel, setidaknya itu bermakna bahwa Mesir mengakui keberadaan negara penjajah itu. (Tulisan ini dibuat saat Mesir masih dikuasai oleh diktator Husni Mubarak - red).

Adapun kita bangsa Indonesia, meski sebagian kecil dari elemen rakyat ada juga yang menginginkan kita membuka hubungan diplomatik dengan penjajah itu, tapi kenyataannya semua rezim masih harus berpikir ulang kalau mau melakukannya.

Tapi yang jadi pertanyaan, apa cukup kita berhenti di seputar `tidak mengakui` keberadaan Israel? Atau kah kita harus juga melakukan hal yang lebih jauh dari itu? Misalnya memboikot produk Yahudi, sebagaimana yang sering dianjurkan oleh sebagian kalangan. Atau kah ada juga langkah-langkah lainnnya?

Tulisan ini akan mencoba membuka wawasan kita lebih luas lagi, terutama tentang apa dan bagaimana Yahudi, agar kita bisa menakar dan mengukur seperti apa sebenarnya kekuatan `lawan`. Dan tentunya kita jadi tahu tindakan seperti apa yang perlu kita lakukan. Setidaknya perlu kita pikirkan.

1. Motivasi Agama
Yahudi bersatu dan bekerjasama untuk mendirikan Israel, semata-mata karena mereka taat pada agama mereka. Walau agama mereka dalam pandangan Islam sudah tidak berlaku, selain karena sudah expired, juga isinya adalah hasil karangan para rahib dan pendeta mereka, bukan sesuatu yang original dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun harus kita akui semangat mereka membangun Israel ditambah semua kekuatan ekonomi dan lobi politik, semata-mata karena mereka ingin menjalankan kewajiban agama mereka. Karena mereka taat menjalankan agama, maka mereka melakukan semua ini.

Sebaliknya kita umat Islam, kebanyakan menghadapi Yahudi bukan dengan semangat agama Islam, melainkan dengan semangat nasionalisme sempit, atau sekedar motif-motif yang terlalu rapuh.

Maka kita bisa lihat bagaimana satu persatu perlawanan negara Arab rontok ketika berhadapan dengan realitas kekuatan Yahudi di lapangan. Sebab kalau kacamata yang dipakai semata-mata pertimbangan oportunis, maka pilihan mengakui Israel sebagai sebuah negara adalah pilihan paling logis.

Karena itulah Mesir, Suriah, Jordan, Libanon dan negara jiran lainnya, ramai-ramai meneken perjanjian yang intinya mengakui keberadaan Israel sebagai sebuah negara berdaulat di atas tanah rampasan.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena para penguasa negara-negara Islam itu hanya mempertimbangkan realitas secara oportunis, tidak memasukkan pertimbangan akidah dan syariah dalam menetapkan pilihan.
Dalam pikiran mereka, berperang dengan Israel lebih banyak ruginya dari pada untungnya. Maka mendingan duduk damai saja, dengan menelan pil pahit kenyataan bahwa sesungguhnya Israel adalah sebuah kekuatan agresor maha dahsyat yang bertanggung-jawab atas jutaan nyawa bangsa Palestina.

2. Yahudi Sudah Bersiap Sejak Ratusan Tahun Lalu
Satu hal yang perlu kita pelajari secara seksama, Yahudi dengan akar-akarnya bukanlah fenomena yang baru saja terjadi di hari ini. Yahudi sudah bekerja keras sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan boleh dibilang ribuan tahun lalu.

Mereka siang malam diam-diam melakukan kerja tanpa lelah, turun temurun semangat membangun Israel dipompakan pada tiap generasi. Boleh dibilang, tidak ada bayi Yahudi lahir ke dunia kecuali di dalam darah dan dagingnya punya satu tujuan, yaitu mendirikan Israel, memperjuangkan kepentingan kaum mereka dan mengerjakannya dengan sepenuh dedikasi dan semangat.

Bank dunia sudah mereka dirikan jauh sebelum Israel mereka proklamasikan. Perusahaan-perusahaan raksasa yang menguasai aset-aset dunia, mulai dari perusahaan minyak sampai makanan, sudah mereka dirikan jauh sebelum bendera Israel berkibar.

Semua itu menandakan satu hal, yaitu perjuangan Yahudi adalah perjuangan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Agak berbeda dengan kita kaum muslimin, dimana remaja-remaja banyak yang tidak tahu menahu urusan membangun umat, apalagi menegakkan daulah atau khilafah. Jangankan membangun umat, sadar bahwa dirinya bagian dari 1,7 milyar umat Islam pun belum juga.

Israel berdiri tahun 1948, tapi sejak tahun 1895 theodore Hertzl di Eropa sudah mulai memprovokasi bangsa itu untuk mendukung berdirinya negara Israel.

Dua tahun kemudian, 1895, di Swiss telah berkumpul 197 delegasi yang terdiri dari kaum orthodoks, nasoinalis, ahteis, kulturalis, liberalis, sosialis dan kapitalis. Topik utamanya, tidak lain persiapan untuk mendirikan Israel.

3. Yahudi Bersatu Meski Berbeda
Kita akui bahwa di dalam tubuh umat Yahudi ada begitu banyak kelompok, sebagaimana Al Quran menyebutkan :
Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (QS. Al Hasyr : 14)

Namun ketika bicara dengan lawannya seperti kita umat Islam, Yahudi tetap punya ikatan batin yang kuat. Mereka pada gilirannya bisa meredam sementara perpecahan di dalam internal mereka, kalau sudah berhadapan dengan umat Islam.

Ini yang perlu kita pelajari dari Yahudi musuh kita. Bagaimana dengan jumlah yang hanya 15 jutaan saja di seluruh dunia, mereka bisa kompak mengatasi ketidak-kompakan dan keretakan di tubuh mereka.
Sementara kita umat Islam yang dengan bangga mengatakan diri telah berjumlah 1,7 milyar, rasanya masih jauh untuk dibilang kompak. Jangankah kompak sesama umat, bahkan kadang di dalam tubuh sebuah jamaah, ormas, atau partai bernuansa Islam saja, kita masih merasakan ketidak-kompakan itu.

Kita masih mendengar caci maki dan tudiangan sesat yang ditujukan ke hidung saudara kita sendiri. Kadang masalahnya sepele, tapi jadi urusan besar dan berat sekali, bahkan pakai bawa-bawa neraka pula.

Sementara Yahudi dengan santai menjalin ukhuwah di antara mereka tanpa ribut-ribut yang mengakibatkan lumpuhnya kekuatan.
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Anfal : 46)

4. Yahudi Menguasai Ekonomi Dunia
Sebagian umat Islam ada yang punya semangat menggebu untuk membentuk khilafah Islamiyah, sebagaimana selama 14 abad ini kita pernah memilikinya.

Cuma ketika kita tanya, apa saja yang sudah kalian persiapkan untuk terbentuknya khilafah itu, semuanya hanya diam. Sebab yang terpikir di benak mereka, cukup dengan kampanye menegakkan khilafah, tiba-tiba besok pagi khilafah sudah ready for use.

Salah satu sendi sebuah khilafah, bahkan sebuah negara, dan dalam ruang lingkup yang lebih kecil lagi, sebuah organisasi, masalah kekuatan ekonomi menjadi sesuatu yang sangat krusial.

Dan salah satu kelemahan paling mendasar dari umat Islam adalah justru pada masalah ekonomi. Jangankan memiliki, sedangkan untuk sekedar mengatasi rasa lapar saja, jutaan umat Islam di berbagai belahan negeri masih menggantungkan harapan dari belas kasihan orang lain.

Di sekitar kita ada begitu banyak kekayaan alam yang potensial untuk dioptimalkan sebagai salah satu pilar penyangga ekonomi umat. Tapi sayangnya, tidak satu pun yang bisa dinikmati umat Islam. Sebab kebanyakan aset-aset itu sudah digadaikan ke orang asing, dimana keuntungannya kalau ada, masuk kantong para pejabatnya.

Sementara di sisi lain, perusahaan-perusahaan Yahudi dunia telah mengantungi hak untuk mengeksploitasi hampir semua kekayaan di dunia ini.

Para taipan Yahudi ini bekerjasama saling bantu untuk mengumpulkan dana yang tidak sedikit, untuk membantu kampanye para presiden di seluruh dunia. Ketika presiden itu naik tahta, maka kompensasi yang didapat Yahudi puluhan bahkan ratusan kali lebih besar dari modal yang sebelumnya mereka benamkan.
Sementara umat Islam, jangankah menguasai aset di negerinya sendiri, sedangkan sekedar mau bikin hajatan ormasnya saja, harus mengedarkan proposal kesana kemari, minta-minta sponsor dan sumbangan dana. Artinya, sekedar mau menyatakan bahwa ormas itu ada, masih harus dipapah oleh pihak lain.

Jadi bagaimana mau bikin khilafah kalau bikin sekolah saja tidak mampu? Bagaimana mau menegakkan daulah kalau membiayai hidup jamaah saja harus mengemis?

Orang-orang Yahudi tidak sekedar berhenti pada retorika ketika mereka menyatkan ingin membangun Israel. Mereka tidak sekedar kampanye kesana kemari kepada keturunan Yahudi di dunia, bahwa mereka harus mendirikan negara Israel.

Tapi mereka sudah sampai ke level bekerja secara sistematis. Mereka dirikan begitu banyak perusahaan multi nasional yang menguasai hajat hidup orang banyak, sebagai penopang dan tiang penyangga negara impian mereka.

Sementara kita, berhenti hanya sampai retorika belaka, bahkan malah berujung kepada saling menyalahkan sesama kaum muslimin. Tapi sambil menyalahkan, kita tetap saja berpangku tangan, tidak bekerja, tidak mendirikan perusahaan multi-national, tidak menggarap apa-apa. Kekayaan alam kita tetap saja diangkut ke luar sana untuk kepentingan Yahudi.

Ekonomi umat dalam taraf pemikiran kita, sekedar berjualan dengan MLM, atau jualan minyak wangi, buku, madu, habbah sauda`, atau kaus bergambar usamah.

Kita belum berpikir mendirikan PLTN misalnya, dimana proyek itu akan sangat membantu umat ini dari segi infrastuktur. Bagaimaan kita mau bangun pabrik otomotif atau pesawat terbang, kalau listriknya byar pet.
Untuk mendirikan `khilafah` Yahudi yaitu negara Israel, para konglomerat Yahudi membangun basis perusahaan kelas muliti nasional. Ada banyak keuntungan yang mereka peroleh dari sekian banyak perusahaan, selain masalah keuntungan secara finansial.

Misalnya, mereka bisa atur biar semua penguasa dunia bertekuk lutut dan mencium jempol kaki mereka. Para penguasa dunia itu akan memohon-mohon kepada para konglemerat Yahudi agar perusahaan multi nasional itu mau mendirikan cabang di negara masing-masing.

Disamping itu faktor keterikatan umat Islam kepada produk Yahudi membuat umat Islam tidak berpikir untuk bersikap kreatif memproduksi, tetapi cenderung membeli dari Yahudi. Buat apa membikin sendiri kalau bisa beli.

Sikap seperti ini pada gilirannya membuat ketergantungan umat Islam pada `musuhnya` semakin besar. Padahal barang itu barang yang sangat sederhana, cuma paku yang bahan bakunya berlimpah di negeri kita. Tapi kita telah diarahkan untuk selalu menjadi konsumen yang konsumeris.

Kalau barang yang kita miliki bukan buat luar negeri (baca : Yahudi), rasanya belum afdhal. Gengsinya turun drastis.

Dan yang paling fenomenal adalah perusahaan milik Bill Gates, Microsoft. Software komputer ini konon digunakan oleh 90% komputer pribadi di dunia.

Bill Gates dan Microsoft
Tahukah anda berapa besar kekayaan seorang Bill Gates? Tahun 1998 kekayaannya mencapai 45 milyar USD. Itu berarti lebih tinggi dari PDB gabungan dari Chili dan Mesir sekaligus, 2 kali lebih besar dari PDB Guatemala, 4 kali lebih besar dari PDB Srilanka dan Republik Dominika, 6 kali lebih besar dari PDB Kosta Rika atau Panama dan 8 kali lebih besar dari PDB Brunei Darussalam, dan 23 kali lebih besar dari PDB Bermuda. (Lihat : Raja Bisnis Yahudi oleh Anton A Ramdan SSi).

Tapi itu saja belum cukup, karena ternyata tahun 1998 baru awal keberhasilan Microsoft. Setahun kemudian (1999) Bill Gates malah dapat untung lebih besar dari dua kali lipatnya, yaitu 100 milyar USD.

Ada orang yang mencoba mengira-ngira, seberapa sih kekayaan Bill Gates. Salah satunya menghitung kira-kira pendapatan Bill Gates sebesar 250 USD per detik. Bukan perbulan, perminggu atau perhari, tapi per detik. Dengan kekayaannya ini, dia bisa membeli beberapa negara sekaligus.

Dengan 250 USD setiap detiknya, berarti pendapatan per harinya sekitar 20 juta USD atau 7,8 milyar USD setahun.

Jika dia menjatuhkan US$1.000, dia bahkan tidak perlu repot-repot lagi untuk mengambilnya kembali karena sama dengan waktu 4 detik untuk mengambil, dia sudah memperoleh penghasilan dalam jumlah yang sama.

Utang nasional Amerika sekitar 5,62 trilyun USD, jika Bill Gates akan membayar sendiri utang itu, dia akan melunasinya dalam waktu kurang dari 10 tahun.

Dia dapat menyumbangkan 15 USD kepada semua orang di dunia tapi tetap dapat menyisakan 5 juta USD sebagai uang sakunya.

Michael Jordan adalah atlit yang dibayar paling mahal di Amerika. Jika dia tidak makan dan minum dan tetap membiarkan penghasilannya utuh dalam setahun sejumlah 30 juta USD, dia tetap harus menunggu sampai 277 tahun agar bisa sekaya Bill Gates sekarang.

Jika Bill Gates adalah sebuah negara, dia akan menjadi negara terkaya sedunia nomor ke 37 atau jadi perusahaan Amerika terbesar nomor 13, bahkan melebihi IBM.
Majalah Forbes menobatkannya sebagai orang nomor satu dari 400 orang terkaya di dunia terhitung sejak tahun 1993 sampai tahun 2007.

Sosok Manusia Sukses
Sukses dengan bisnis, Bill Gates mulai merambah ke dunia yang lain. Dia pun menulis buku. Tahun 1995, sebuah buku berjudul The Road Ahead karyanya laris bak kacang goreng. Dalam waktu 7 minggu, buku itu masuk dalam daftar buku paling laris versi the New York Times. Di China saja, buku ini terjual 400.000 kopi.

Di tahun 1999, buku keduanya yang berjudul Bussines @ speed of Thought menyusul dan juga sukses di pasaran. Sampai-sampai bukunya diterjemahkan ke dalam 25 bahasa.

Keuntungan dari royalti penjualan kedua buku itu seluruhnya disumbangkan ke beberapa organisasi sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Memang, keuntungan royalti itu tidak ada artinya dibandingkan kekayaan Bill Gates dari keuntungan Microsoft.

Panen Gelar Doktor dan Penghargaan
Ratu Inggris memberinya gelar Knight Commander of the Most Excellent Order of the British Empire pada tahun 2005. Bill menerima itu atas jasanya kepada perekonomian Inggris dan upaya dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan taraf kesehatan di negara-negara berkembang. Gelar ini adalah gelar tertinggi kedua yang ada di Inggris.

Berbagai universitas terkemuka di dunia berebutan memberinya gelar kehormatan. Universitas Bisnis Nyenroe di Breukelen Belanda menganugerahinya gelar Doktor kehormatan.

Tahun 2002, giliran Royal Institute of Tecnology Stockholm Swedia yang menganugerahinya gelar doktor kehormatan.

Tahun 2005, Universitas Waseda Tokyo Jepang juga tidak mau ketinggalan memberinya gelar doktor. Dua tahun kemudian, 2007, Harvard juga memberinya gelar doktor. Terakhir tahun 2008, Bill menerima sekali gelar tersebut dari Karolinska di Stockholm.

Umat Islam dan Bill Gates
Lepas dari keyahudiannya, yang menggelitik kita adalah sebuah pertanyaan, lalu dimana kita sebagai umat Islam dibandingkan prestasi yang diraih oleh Yahudi satu ini? Adakah di kalangan umat Islam yang bisa menyamai prestasinya? Atau minimal kepintarannya dalam ilmu komputer sekaligus mengelola bisnis?
Yang terjadi kita malah jadi pembeli produk microsoft. Bahkan bergantung 100% dari windows dan officenya. Alih-alih membuat tandingannya, kita malah hanya bisa membajaknya. Ya, itulah kehebatan bangsa kita yang tidak dimiliki oleh seorang Bill Gates.

Dari pada susah-susah membikinnya, yang ada saja dibajak, lalu dijual dalam bentuk CD eceran seharga 25.000-an.

Maka kita harus memotivasi anak-anak kita biar jadi orang yang genius, lebih jenius dari Bill Gates. Sekaligus mengerti cara mengelola bisnis, lebih hebat dari cara yang dilakukan oleh Bill Gates. Dan kalau perlu, harus jadi orang yang kaya melebihi kekayaannya.

Agar dapat memajukan agama Islam dan umatnya, keluar dari jurang nestapa dan kancah kehancurannya.
Selain memiliki jaringan pengusaha kelas dunia yang kekayaannya berlimpah, dalam rangka membangun negara Isreal, orang-orang Yahudi sedunia memastikan bahwa dunia pers harus 100% benar-benar dikuasai. Pers adalah kekuatan keempat, begitu kata insan pers. Dengan kekuatan pers, Yahudi bisa menggiring opini 6,5 milyar manusia di atas bumi sesuai dengan selera dan keinginan mereka.

Rupert Murdoch
Kalau ada orang yang hari ini memiliki media massa paling banyak dan paling besar, maka semua orang sepakat bahwa orang itu adalah Rupert Murdoch. Dia adalah salah satu putera dari 15 juta bangsa Yahudi di kolong langit yang menjadi raja media massa.

Sumber : Fimadani

Aku Terpaksa Menikahimu dan Akhirnya Aku Menyesal

Diposkan Oleh Muhammad Zaki on Senin, 26 November 2012 | 21.07

Kisah “aku terpaksa menikahimu dan akhirnya aku menyesal” adalah kisah rumah tangga yang sangat memberi pelajaran bagi kita semua. Penyesalan yang datangnya hanya pada akhir karena keterpaksaan.
***
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Setelah menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku.

Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.

Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja.

Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. 

Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku. 
“Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!”
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajeri oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
***
Begitulah penyesalan sang istri akhirnya, dia menangis dan menyesal. Ketika suaminya telah tiada, dia baru sadar betapa besarnya cinta suaminya kepada dia. Semoga hal ini tidak terjadi lagi dalam kehidupan sekarang tetapi hanya cintanya saja yang akan terjadi.
 
Sumber : Muslimah Zone

PM Turki mengecam serial TV yang menodai sejarah Kesultanan Utsmaniyah

Sebuah serial TV telah mendistorsi sejarah Kesultanan Utsmaniyah atau yang juga dikenal sebagai Kerajaan Turki Utsmani, menurut Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, dikutip surat kabar Turki pada Senin (26/11/2012).

"Teh Magnificent Century", film yang menceritakan tentang kehidupan Sultan Sulaiman, yang memimpin Kerajaan Turki Utsmani pada zaman keemasannya, telah populer di Dunia Arab, tetapi menurut Erdogan serial tersebut telah mencoreng citra sang Khalifah di abad ke-16 itu, Anadolu melaporkan.

Menurut laporan, serial TV tersebut menayangkan adegan yang tak layak yang menunjukkan seorang sultan muda dan gagah sedang bersenang-senang di kerajaannya dan meminum anggur (khamar).

"Ini bukanlah nenek moyang kami yang telah digambarkan dalam serial TV ini," katanya dalam acara peresmian sebuah bandara di provinsi Kutahya, 190 mil dari barat ibukota Ankara.

"Kami pergi ke setiap tempat yang mana nenek moyang kami mencapainya dengan kuda-kuda mereka, dan kami memperhatikan wilayah-wilayah ini," tambahnya.

Selama masa masa kekaisaran, Kerajaan Utsmani mencapai puncaknya, katanya. Beliau menghabiskan waktu 30 tahun dalam hidupnya di atas kuda, bertempur dan menaklukkan kota-kota, tambahnya.
Erdogan mengatakan bahwa dia sedang berusaha agar sutradara drama Turki itu menghadapi proses hukum.

Sumber : Arrahmah

Negeri Terkutuk dan Berkuasanya Para Bandit

Boleh suka atau tidak suka. Sesungguhnya negeri ini negeri yang terkutuk. Diisi manusia-manusia jahat di semua lapisan ada. Tidak ada yang terkecuali. Perbuatan jahat dengan berbagai jenis dan variasinya, seperti sudah menjadi keniscayaan belaka.

Mulai dari penegak hukum, hampir semuanya terlibat dalam sungsang sengkarut kejahatan, tidak ada yang kalis dari keterlibatan mereka dalam kejahatan. Penegak hukum di Indonesia seharusnya menjadi tumpuan harapan rakyat. Menegakkan hukum dan keadilan. Tetapi, hampir semua penegak hukum terlibat dalam tindakan kotor, yang melawan hukum itu sendiri.

Hakim, jaksa, dan polisi, tak ada yang kebal dari tindak kejahatan, yang terus menerus. Rakyat menjadi sangat skeptis. Bagaimana kalau seorang hakim, ketika mengetukkan palunya, justeru dalam keadaan mabuk. Karena menelan narkoba. Tidak ada keputusan yang benar-benar adil yang dijatuhkan oleh hakim kepada seorang pidana, kecuali sudah terjadi transaksi, saat keputusan itu sebelum  dijatuhkan.

Sogok, suap, korupsi, dan tipu-menipu sudah menjadi bagian keseharian aktivitas mereka. Tidak ada aparat penegak hukum, seperti hakim, jaksa, dan polisi, yang selamat dari pengaruh sogok, suap, dan korupsi.
Tentu, yang paling fenomenal, korupsi Simulator SIM, yang dilakukan oleh Irjen Polisi Djoko Susilo, yang sampai sekarang tak perkara, di sidik KPK, sampai tuntas, karena fihak kepolisian, nampaknya tak ikhlas memberikan KPK menyidik. Sampai para penyidik dari kepolisian yang ada KPK, semua ditarik dari lembaga itu, dan bahkan pengawalnya Ketua KPK, Abraham Samad, yang berasal dari satuan kepolisian pun ditarik.

Sekarang ini, negeri Indonesia benar-benar negeri terkutuk. Semuanya lapisan dan struktur terlibat dalam kejahatan yang bersifat masif (menyeluruh), bahkan menurut Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), kejahatan narkoba, sudah masuk ke Istana. Suatu keadaan yang benar-benar gawat yang dihadapi oleh Republik ini.
Mahfud MD, tidak salah, dan mengemukakan fakta dengan apa adanya, serta jujur. Memang sangat tidak masuk nalar, Presiden SBY, yang seharusnya menjaga konstitusi dan rakyatnya, justeru terjerumus, yang sangat tidak lazim, dan sebuah pelanggaran konstitusi.

Di mana menjadi kewajiban seorang kepala negara melindungi segenap tumpah darah tanah airnya. Tetapi, justeru yang dilakukan memberikan grasi dan ampunan terhadap mereka yang sudah terang-terangan menjadi ancaman kemanan nasional.

Apapun alasan Presiden SBY memberikan grasi terhadap ratu "marijuana" yang berasal dari Australia, bernama Corby, sangat lah tidak layak dan pantas dilakukan oleh seorang kepala negara. Corby benar-benar menjadi ancaman keamanan nasional Indonesia. Bagaimana Corby bisa mendapatkan grasi, yang sudah jelas-jelas melakukan kejahatan, yang tiada tara terhadap kepentingan nasional dan keamanan nasional Indonesia, tetapi dibebaskan oleh SBY?

Belum lagi hiruk-pikuk tentang Corby usai, dan menimbulkan silang pendapat diantara ahli hukum, sekarang yang lebih menyentakkan lagi, Presiden SBY memberikan grasi kepada raja narkoba, "OLA", dan inilah sebuah kesalahan yang sangat fatal, karena SBY sudah berani pasang batan, dan tetap ia menyatakan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Berarti negeri ini sudah benar-benar dikuasi oleh jaringan bandit narkoba, mulai dari istana sampai lp (lembaga permasyarakatan). Istana yang dijaga begitu keta, bisa ditembus oleh jaringan narkoba, dan kemudian indikasinya keluarnya grasi terhadap gembong narkoba seperti Corby dan Ola. Sebuah tanda-tanda negeri ini akan sampai ke ujung dasar jurang dan tenggelam.

Demikian pula, lembaga yang seharusnya menjadi kekuatan yang akan menjembatani kepentingan rakyat, justeru sekarang berjamaah ikut terlibat dalam korupsi secara luas. Lembaga DPR alias Legislatif, bukan lagi menjadi pembela rakyat, tetapi mereka kekuatan yang dengan terang-terangan menzalimi rakyat.
Mereka dengan kewenangan yang dimiliki mengeruk asset negara dan anggaran (APBN), seperti dalam berbagai kasus yang ada. Semuanya yang ada menunjukkan, betapa lembaga DPR alias Legislatif itu, tak secuilpun mereka yang benar-benar memihak kepada rakyat.

Sebuah polemik dan kontroversi tentang anggaran (APBN), sebuah yang bersifat keniscayaan. Terjadi kejahatan kolektif antara legislatif dan ekskutif. Ekskutif di tiap kementerian ingin menaikkan anggaran kementeriannya dengan cara nyogok kepada anggota legislatif (DPR). Seperti yang terjadi dalam berbagai kasus, diantaranya kasus di Kementeria Transmigrasi soal Pembangunan Infrastruktur, yang memungkinkan terjadinya puluhan miliar.

Koar-koarnya Menteri BUMN Dahlan Iskan sudah ada sejak dulu, dan sejak zamannya Menteri BUMN dibawah Sugiharto. Tetapi, efek pemberitaannya tidak seheboh sekarang ini. Kalangan BUMN ingin mendapatkan  penyertaan modal dari APBN, maka jalan yang ditempuh dengan cara nyogok kepada anggota DPR, dan sudah sangat berumur tua. Jadi tidak ada yang disebutkan Dahlan Iskan sebagai bentuk pemerasan, tetapi adanya "deal" antara DPR dengan para Direktur BUMN, yang ingin mendapatkan penyertaan modal.

Jadi antara legislatif dan ekskutif sama-sama busuk dan bobrok. Tetapi, kalau mau dibuktikan dengan cara hukum terbalik, sejatinya yang paling busuk dan korup itu, tak kalangan ekskutif. Tetapi, sekarang yang disidik hanyalah kalangan legisalatif belaka. Bayangkan fihak ekskutif (pemerintah) mengelola anggaran (APBN) sebesar Rp 1600 triliun, tetapi sepanjang pemerintahan SBY, tidak ada yang signifikan perubahan pembangunan, seperti pembangunan infrastrukturk.

Apalagi,sekarang dengan pola koalisi antara partai politik, sejatinya negara ini suah dikapling-kapling diantara para partai koalisi yang terlibat dalam pemerintahan SBY. Selama pemerintahan SBY, pos-pos strategis berada ditangan orang-orang yang dalam barisan partai SBY, yaitu Partai Demokrat.
Tetapi, ketika sudah terindikasi korupsi, sangat sulit penyelesaiannya secara hukum. Seperti dugaan korupsi terhadap Andy Malangrangeng dan Anas Urbaningrum, sampai sekarang semuanya majal. Tak bisa dijadikan tersangka. Padahal, saksi-saksi yang memberikan kesaksian sudah cukup sebagai keterlibatan mereka dalam kasus korupsi.

Jadi, hakim, jaksa, polisi, pengacara, dokter, sampai tokoh agama pun, sekarang tak bisa bebas. Tokoh agama yang mendirikan partai politik,kemudia memberikan legitimasi kepada pemerintahan SBY, dan membiarkan kemungkaran hidup dan merajalela.

Karena mereka mendapatkan kursi di pemerintahan, dan menyebabkan para tokoh agama itu, lidahnya menjadi kelu, tidak lagi berani menegur ketika ada pejabat yang bertindak salah. Nilai-nilai aqidah yang sudah lama tertanam dalam dada mereka, mereka runtuhkan demi kekuasaan dan jabatan serta kenikmatan dunia. Inilah yang menyebabkan kerusakan lebih luas di negeri ini.

Bahkan, kejahatan itu sudah sangat luas, sampai ke pedagang di pasar-pasar, misalnya konon pedagang daging, disebuah pasar, di mana pedagang daging, harus mengoplos dagangan dagingnya dengan daging celeng (babi hutan) demi mendapatkan keuntungan lebih banyak.

Pokoknya kejahatan di negeri ini sudah sangat luas, tak ada lagi lapisan sosial, yang tidak melakukan kejahatan. Memang, wajar karena di negeri ini sudah tidak ada lagi  yang dapat menjadi penutan. Toko-tokoh yang mendapatkan gelar dan sanjungan yang sangat luas, ternyata mereka hatinya sudah rusak terkena penyakit akhir zaman, bernama penyakit : NIFAK.

Dari luar kelihatan baik dan shallih, dan selalu meneriakkan kebenaran, keadilan dan kebaikan, tetapi sejatinya mereka ini orang-orang yang paling membenci al-haq alias din (Islam), maka Indonesia terus menuju kehancuran yang sangat destruktif. Karena, tidak ada lagi, orang-orang yang ikhlas, dan tidak tergoda dengan aksesoris dunia. Wallahu'alam.

Sumber : Voa - Islam

Gaza is The Best

Diposkan Oleh Muhammad Zaki on Jumat, 23 November 2012 | 23.20

Setiap sesuatu pasti ada puncaknya, yang terbaik di antara yang terbaik. Dan untuk bumi Allah, tak ada tempat terbaik saat ini, kecuali Gaza. Dialah puncak dari semua tempat terbaik di muka bumi.

Dia menjadi mulia karena di dalamnya ada aktivitas jihad, yang merupakan puncak dari Islam. Kota itu setiap hari selalu dalam siaga perang. Hampir setiap hari ada berita warga yang syahid. Setiap malamnya bertugas pasukan yang menjaga perbatasan dari musuh zionis.
Aktivitas siaga & berjaga-jaga ini dlm Islam disebut “Ribath” & ribath adalah puncak dari jihad. Jika Gaza tertidur, Zionis pasti menyerang dan mengambil bumi itu untuk kembali dijajahnya. Hal tersebut tertuang dalam protokol zionis yang ingin merebut semua wilayah Palestina.

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ribath di jalan Allah jauh lebih mulia daripada mengunjungi Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsa”. Tidak ada perbedaan pandangan para ulama tentangnya.

Hal ini sesuai dengan Firman Allah, “Apakah (orang orang) yang memberi minuman kepada orang orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram kamu samakan dengan orang orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah” [At-Taubah (9):19]

Nabi SAW bersabda, “Ribath sehari, lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya” (HR. Bukhori)

Ribath itulah yang menjadi kemuliaan kota ini. Allah dan Rasul-Nya yang menjamin kemuliaannya. Saya merasakan sendiri betapa kota ini berbeda dengan kota Islam lain. Jamaah masjid yang penuh, jalanan bersih minim sampah walaupun terhias puing puing korban perang, kesantunan bahasa dan kerapihan penampilan warganya. Padahal mereka sedang berjihad!

Kebaikan menyebar dalam semua sudut kehidupan mereka. Inilah jihad yang menghasilkan kehidupan positif. Dan itu semua ada di Gaza.

Sumber : Zilzaal

Husein bin Ali bin Abi Thalib – Peristiwa Syahidnya Cucu Nabi

Diposkan Oleh Muhammad Zaki on Kamis, 22 November 2012 | 18.41

Peristiwa Kesyahidan Husein bin Ali bin Abi Thalib

Bulan Muharram merupakan bulan yang agung dan memiliki banyak keutamaan; Nabi Musa ‘alaihissalam diselamatkan dari Firaun dan bala tentaranya di bulan Muharram. Untuk menghormati bulan ini, Allah haramkan peperangan walaupun perang tersebut bertujuan meninggikan kalimat-Nya. Di bulan ini pun terdapat suatu hari, yang dapat mengampuni dosa setahun yang lalu dengan berpuasa di hari tersebut. Namun, bulan Muharram juga mengisahkan sebuah duka, duka dengan wafatnya penghulu pemuda penghuni surga, cucu Rasulullah, Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Terkait peristiwa tersebut, ada sebuah kelompok yang rutin memperingati wafatnya Husein bin Ali radhiallahu ‘anhu dengan cara meratapi dan menyiksa diri. Mereka berandai-andai jika saja waktu itu mereka bersama Husein dan menolong Husein yang dizalimi. Mereka menamakan diri mereka Syiah, pencinta dan pendukungahlul bait (keluarga Nabi). Setiap orang bisa mengklaim diri sebagai penolong keluarga Nabi, namun pertanyaannya adalah benarkah mereka menolongnya?!

Kita tidak hendak saling menyalahkan, tidak juga memicu perpecahan, kita hanya akan mengangkat fakta sejarah bagaimana cucu manusia yang paling mulia ini bisa terbunuh di tanah Karbala.

Kita awali kisah ini dengan memasuki tahun 60 H ketika Yazid bin Muawiyah dibaiat menjadi khalifah. Saat itu Yazid yang berumur 34 tahun diangkat oleh ayahnya Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah umat Islam menggantikan dirinya.

Ketika Yazid dibaiat ada dua orang sahabat Nabi yang enggan membaiatnya, mereka adalah Abdullah bin Zubeir dan Husein bin Ali bin Abi Thalib. Abdullah bin Zubeir pun dipinta untuk berbaiat, ia mengatakan, “Tunggulah sampai malam ini, akan aku sampaikan apa yang ada di benakku.” Saat malam tiba, maka Abdullah bin Zubeir pergi dari Madinah menuju Mekah. Demikian juga Husein, ketika beliau dipinta untuk berbaiat, beliau mengatakan, “Aku tidak akan berbaiat secara sembunyi-sembunyi, tapi aku menginginkan agar banyak orang melihat baiatku.” Saat malam menjelang, beliau juga berangkat ke Mekah menyusul Abdullah bin Zubeir.

Kabar tidak berbaiatnya Husein dan perginya beliau ke kota Mekah sampai ke telinga penduduk Irak atau lebih spesifiknya penduduk Kufah. Mereka tidak menginginkan Yazid menjadi khalifah bahkan juga Muawiyah, karena mereka adalah pendukung Ali dan anak keturunannya. Lalu penduduk Kufah pun mengirimi Husein surat yang berisi “Kami belum berbaiat kepada Yazid dan tidak akan berbaiat kepadanya, kami hanya akan membaiat Anda (sebagai khalifah).” Semakin hari, surat tersebut pun semakin banyak sampai ke tangan Husein, jumlanya mencapai 500 surat.

Tidak terburu-buru menanggapi isu ini, Husein mengutus sepupunya Muslim bin Aqil bin Abi Thalib menuju Kufah untuk meneliti dahulu kebenaran berita tersebut. Tibalah Muslim bin Aqil di Kufah dan ia melihat kebenaran berita yang sampai kepada Husein. Penduduk Kufah pun membaiat Husein melalui Muslim bin Aqil.

Kabar dibaiatnya Husein melalui Muslim bin Aqil sampai ke Syam, tempat Khalifah Yazid bin Muawiyah. Ia segera mencopot gubernur Kufah, Nu’man bin Basyirradhiallahu ‘anhu karena Nu’man tidak mengambil tindakan apa pun atas kejadian itu. Sebagai penggantinya, diangkatlah Ubaidullah bin Ziyad menjadi amir Kufah.

Ubaidullah langsung bergerak cepat hendak mengupayakan penangkapan Muslim bin Aqil. Langkah pertama yang dilakukan Ubaidullah adalah mengintrogasi sahabat-sahabat dekat Muslim. Ia menangkap Hani’ bin Urwah, kemudian menanyai keberadaan Muslim kepadanya. Hani’ bin Urwah bersikukuh tidak akan membocorkan rahasia persembunyian Muslim, akhirnya ia ditahan.

Penahanan Hani’ bin Urwah memancing reaksi dari Muslim bin Aqil, ia mengerahkan 4000 orang mengepung benteng Ubaidullah bin Ziyad menekannya agar membebaskan Hani’. Sayang, kisah penghianatan penduduk Kufah ternyata berulang, mereka yang sebelumnya membaiat Muslim bin Aqil pergi meninggalkannya. Di siang hari saja jumlah 4000 tersebut menyusut hanya menjadi 30 orang dan ketika matahari terbenam tinggallah Muslim bin Aqil seorang diri. Akhirnya ia pun terbunuh. Sebelum wafat, ia memberi pesan kepada Umar bin Sa’ad untuk menyampaikannya kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib “Pulanglah bersama keluargamu. Jangan engkau terpedaya oleh penduduk Kufah. Karena mereka telah berhianat kepadamu dan kepadaku.”


Husein radhiallahu ‘anhu Menuju Kufah


Pada saat hendak berangkat menuju Kufah, Husein bertemu dan dinasihati oleh beberapa sahabat Nabi agar tidak menuju Kufah. Di antara sahabat yang menasihati Husein adalah:

Abdullah bin Abbas “Kalau sekiranya orang-orang tidak mencela aku dan engkau, akan aku ikat tanganku ini di kepalamu. Tidak akan kubiarkan engkau pergi.”

Abdullah bin Umar, setelah mendengar keberangkatan Husein menuju Kufah, ia bergegas menyusulnya dan berhasil bertemu dengannya setelah perjalanan 3 malam.

Abdullah bin Umar: Hendak kemana engkau?

Husein: Menuju Irak.

Husein mengeluarkan surat-surat penduduk Irak yang menunjukkan mereka berpihak kepada dirinya. Husein mengatakan, “Ini surat-surat mereka, aku akan kesana dan menerima baiat mereka.”

Abdullah bin Umar: Aku akan sampaikan kepadamu sebuah hadis. Sesungguhnya Jibril pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memberi pilihan kepada Nabi antara dunia dan akhirat, beliau pun memilih akhirat dan tidak menginginkan dunia. Engkau adalah darah daging Rasulullah, demi Allah! Janganlah salah seorang dari kalian (keluarga Nabi) mengambil dunia tersebut atau menggapai bagian yang telah Allah jauhkan dari kalian.

Husein pun tetap pada pendiriannya berangkat menuju Kufah. Melihat pendirian Husein, menangislah Abdullah bin Umar dan mengatakan “Aku titipkan engkau kepada Allah dari pembunuhan.”

Abdullah bin Zubeir mengatakan, “Hendak kemana engkau wahai Husein? Engkau mau menemui orang-orang yang telah membunuh ayahmu dan menghina saudaramu (Hasan bin Ali)? Janganlah pergi! Namun Husein pun tetap berangkat.

Abu Said al-Khudri mengatakan, “Wahai Abu Abdullah (maksudnya Husein pen.), aku ada sebuah nasihat untukmu dan aku adalah orang yang sangat mencintaimu. Aku mendengar berita bahwa Syiah (pendukung)mu di Kufah menulis pernyataan kepadamu, mereka mengajakmu keluar dari Mekah dan bergabung dengan mereka di Kufah. Janganlah engkau menemui mereka! Sesungguhnya aku mendengar ayahmu sewaktu di Kufah mengatakan, ‘Demi Allah, aku telah membuat mereka (penduduk Kufah) bosan dan marah dan mereka pun membuatku bosan juga membuatku marah. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang memenuhi janji.”

Saat Husein melanjutkan perjalanan, sampailah Amir bin Sa’ad utusan dari Muslim bin Aqil. Amir mengabarkan tentang terbunuhnya Husein dan penghianatan orang-orang Kufah. Mendengar berita tersebut Husein pun sadar apa yang ia lakukan akan sia-sia, ia pun memutuskan untuk pulang. Namun anak-anak Muslim bin Aqil menginginkan perjalanan dilanjutkan menuntut hukuman atas tewasnya ayah mereka.

Husein bin Ali bin Abi Thalib Tiba di Tanah Karbala
Mengetahui Husein bin Ali radhiallahu ‘anhu berangkat menuju Kufah, Ubaidullah bin Ziyad berencana mencegatnya agar tidak memasuki Kufah dengan mengirim 1000 pasukan yang dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi kemudian ditambah 4000 pasukan dibawah kepemimpinan Umar bin Sa’ad.

Saat tiba di Karbala, Husein bertanya tentang nama daerah tersebut, “Daerah apa ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Husein pun langsung mengatakan, “Karbun (bencana) dan bala’ (musibah).”

Dibayang-bayangi 5000 pasukan membuat Husein semakin menyadari bahwa janji-janji penduduk Kufah itu hanyalah bualan semata. Apalagi pasukan-pasukan itu sendiri adalah penduduk Kufah yang telah mengiriminya surat. Lalu Husein mengajukan 3 alternatif kepada pasukan Kufah sebagai jalan keluar; pertama, Husein meminta agar pasukan Kufah mengawalnya pulang ke Mekah (agar ia dan keluarganya terjaga) atau yang kedua, pasukan Kufah mengizinkannya untuk pergi ke daerah perbatasan agar ia bergabung dengan pasukan kaum muslimin untuk berjihad atau alternatif ketiga, mereka mengizinkannya menuju Yazid agar ia membaiatnya secara langsung.

Umar bin Sa’ad pun menanggapi positif pilihan yang diajukan Husein, ia mengusulkan agar Husein mengirimkan utusan ke Yazid terlebih dahulu dan ia sendiri mengirimkan utusan ke Ubaidullah untuk memberitakan kabar ini sekaligus alternatif yang diajukan Husein.

Setibanya utusan Umar bin Sa’ad di hadapan Ubaidullah dan menyampaikan apa yang dikehendaki Husein, Ubaidullah pun bergembira dan memberi kemuliaan kepada Husein agar ia sendiri yang memilih sesuai dengan yang ia kehendaki; kembali ke Mekah atau Madinah, menuju daerah perbatasan, atau menuju Yazid di Syam, ia serahkan kepada pilihan Husein. Namun seseorang yang dekat dengan Ubaidullah yang bernama Syamr bin Dzi al-Jasyan angkat bicara atas keputusan Ubaidullah, “Demi Allah, urusannya tidak demikian, dia yang harus tunduk kepada putusanmu.” Maksud Syamr engkau (Ubaidullah) adalah pemimpin bukan dia (Husein), jadi dia yang harus tunduk kepada putusanmu bukan sebaliknya. Ternyata Ubaidullah yang tadinya memuliakan Husein berpaling mengikuti saran dari sahabat dekatnya, Syamr bin Dzi al-Jausyan. Ubaidullah memutuskan menawan Husein dan dibawa ke hadapannya di Kufah sebagai tawanan kemudia ia yang menentukan kemana Husein seharusnya diasingkan.

Setelah sampai perintah Ubaidullah di tanah Karbala, Husein pun menolak kalau dirinya dijadikan tawanan, ia seorang muslim terlebih ia adalah keluarga Rasulullah. Karena Husein menolak untuk ditawan, maka pasukan Ubaidullah itu berusaha menangkap paksa dirinya, Husein mengatakan, “Kalian renungi dulu apa yang hendak kalian lakukan. Apakah dibenarkan (secara syariat), kalian memerangi orang sepertiku? Aku anak dari putri Nabi kalian dan tidak ada lagi di bumi ini anakdari putri Nabi kalian selain diriku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda tentang aku dan saudaraku (Hasan bin Ali), ‘Dua orang ini adalah pemimpin para pemuda penghuni surga.’ Akhirnya Husein pun terbunuh bersama keluarga Rasulullah yang lain. Seorang yang secara langsung membunuh Husein dan memenggal kepalanya bernama Sinan bin Anas.

Demikianlah mereka yang mengaku Syiah (pendukung) Ali dan keluarganya, mereka membelot dan menumpahkan darah ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam peristiwa ini, ada tiga orang yang berperan besar sehingga cucu Nabi yang mulia ini tewas. Mereka adalah Ubaidullah bin Ziyad, Syamr bin Dzi al-Jauzyan, dan Sinan bin Anas, ketiga orang ini adalah Syiah (pendukung) Ali di Perang Shiffin, mereka termasuk dalam barisan pasukan Ali bin Abi Thalib. Bisa jadi mereka yang meratapi kematian Husein di hari Asyura, menganiaya diri mereka, berandai-andai bersama Husein, dan merasakan penderitaannya, seandainya mereka berada di hari tersebut. Mereka akan turut serta dalam pasukan Kufah dan membelot dari Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma.

Sumber: Huqbah min at-Tarikh oleh Syaikh Utsman al-Khomis
Ditulis oleh Nurfitri Hadi (Tim KonsultasiSyariah.com)
Artikel www.KonsultasiSyariah.
 

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

IBADAH

Lihat Artikel Lainnya»

PEMIKIRAN

Lihat Artikel Lainnya»
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. AL-IKHWAN17 - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger