Headlines News :

SIAPA SANTA CLAUS/SINTERKLAS ITU?

Diposkan Oleh Muhammad Zaki on Minggu, 23 Desember 2012 | 20.50

Santa Claus bukan ajaran yang berasal dari paganisme, tetapi juga bukan ajaran Kristen. Sinterklas ini adalah ciptaan seorang pastur yang bernama "Santo Nicolas" yang hidup pada abad ke empat Masehi. Hal ini dijelaskan oleh Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, yang berbunyi sebagai berikut:
"St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of December… A Legent of his surreptitious bestowal of dowries on the three daughters of an improverrished citizen… is said to have originated the old custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6), subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus…" "St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember…Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin… untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus…"
Sungguh merupakan kejanggalan! Orang tua menghukum anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang Natal, mereka membohongi anak-anak dengan cerita Sinterklas yang memberikan hadiah di saat mereka tidur. Bukankah ini suatu keanehan, ketika anak-anak menginjak dewasa dan mengenal kebenaran, pasti akan beranggapan bahwa Tuhan hanyalah mitos atau dongeng belaka?
Dengan cara ini tidak sedikit orang yang merasa tertipu, dan mereka pun mengatakan:
"Ya, saya akan membongkar pula tentang mitos Yesus Kristus!"
Inikah ajaran Kristen yang mengajarkan mitos dan kebohongan kepada anak-anak? Padahal Tuhan sudah mengatakan:
"Janganlah menjadi saksi palsu. Dan ada cara yang menurut manusia betul, tetapi sebenarnya itu adalah ke jalan kematian dan kesesatan."
Oleh karena itu, upacara "Si Santa Tua" itu juga merupakan Setan.
Di dalam kitab suci telah dijelaskan sebagai berikut:
"Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi itu bukanlah hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka." (II Korintus 11:14)
Dari bukti-bukti nyata yang telah kita ungkap tadi dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau Christmas itu bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya, melainkan kebiasaan para penyembah berhala (Paganis). Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia ribuan tahun yang lampau.

THE PLAIN TRUTH ABOUT CHRISTMAS
By Herbert W. Armstrong
Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Masyhud SM. dalam buku Misteri Natal.
 
Sumber : Media Isnet

FATWA MUI TENTANG NATAL BERSAMA

KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG
                    PERAYAAN NATAL BERSAMA
 
Memperhatikan:
1. Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini
   disalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama
   dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.
2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam
   yang ikut dalam perayaan Natal dan bahkan duduk dalam
   kepanitiaan Natal.
3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan
   Ibadah.
 
Menimbang:
1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang
   Perayaan Natal Bersama.
2. Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan Aqidah dan
   Ibadahnya dengan Aqidah dan Ibadah agama lain.
3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan
   Taqwanya kepada Allah Swt.
4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar
   ummat Beragama di Indonesia.
 
Meneliti kembali:
Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:
A. Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan
   bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah
   yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:
   Al Hujarat: i3; Lukman:15; Mumtahanah: 8 *).
B. Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah
   dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama
   lain, berdasarkan Al Kafirun: 1-6; Al Baqarah: 42.*)
C. Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan
   Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka  kepada
   para Nabi yang lain, berdasarkan: Maryam: 30-32; Al
   Maidah:75; Al Baqarah: 285.*)
D. Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih
   daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu
   anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan: Al
   Maidah:72-73; At Taubah:30.*)
E. Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan kepada
   Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar
   mereka mengakui Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan.  Isa
   menjawab Tidak.  Hal itu berdasarkan atas Al Maidah:
   116-118.*)
F. Islam mengajarkan bahwa Allah Swt itu hanya satu,
   berdasarkan atas: Al Ikhlas 1-4.*)
G. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri
   dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Swt serta
   untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik
   kemaslahatan, berdasarkan atas: hadits Nabi dari Numan bin
   Basyir (yang artinya): Sesungguhnya apa-apa yang halal itu
   telah jelas dan apa-apa yang haran itu pun telah jelas, akan
   tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti
   halal, seperti haram ), kebanyakan orang tidak mengetahui
   yang syubhat itu.  Barang siapa memelihara diri dari yang
   syubhat itu, maka bersihlah Agamanya dan kehormatannya,
   tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia
   telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang
   menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka
   mungkin sekali binatang itu makan di daerah larangan itu.
   Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan
   ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang
   diharamkanNya (oleh karena itu yang haram jangan didekati).
 
Majelis Ulama Indonesia MEMFATWAKAN:
 
1. Perayaan natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan
   dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi natal itu tidak
   dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
2. Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya
   haram.
3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan
   larangan Allah Swt dianjurkan untuk (dalam garis miring):
   tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.
   
               Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H./ 7 Maret 1981
                     M. KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
                              Ketua (K.H.M. Syukri Ghozali),
                                Sekretaris (Drs. H. Masudi)
 
-------- 
*) Catatan: Dalam fatwa itu, ayat-ayar Al Quraan yang
            disebutkan tadi ditulis lengkap dalam Bhs Arab
            dan terjemahannya, Bhs Indonesia.
         
Situs asli: http://www.mui.or.id/b3_28.htm

Al Kitab Mengutuk Pohon Natal

Tidak ada perayaan Natal tanpa pohon Natal. Inilah yang saat ini dirayakan oleh orang-orang kafir dari golongan Kristen setiap tanggal 25 Desember. Padahal, sebagaimana dapat dibaca dari buku-buku sejarah, perayaan Natal dan pohon Natal sudah ada semenjak zaman dahulu kala, jauh sebelum Yesus dilahirkan. Perayaan Natal ini sesungguhnya merupakan tradisi lama dari para penganut penyembah berhala.

Barulah pada abad keempat Masehi perayaan Natal ini diadopsi menjadi perayaan kelahiran Yesus oleh orang-orang kafir Kristen. Padahal, bukan saja tidak mungkin Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember, akan tetapi, tanggal 25 Desember itu sendiri diyakini sebagai tanggal lahirnya para berhala (tuhan-tuhan buatan manusia) yang disembah oleh orang-orang kafir pada masa jauh sebelum Yesus.

Secara tegas, Alkitab/Bibel mengutuk keras perayaan Natal dan pohon Natal, berikut petikan ayat-ayatnya:

Yeremia 10:2-4:

"Beginilah firman Tuhan: "Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak, orang memperkuatnya dengan paku dan palu supaya jangan goyang."

Jadi, Alkitab/Bibel sendiri dengan tegas mengutuk keras pembuatan pohon Natal. Mengapa umat Kristen yang mengklaim Alkitab sebagai pedoman hidupnya malah justru menodai firman Tuhannya sendiri?

MANFAAT TIDUR MENGHADAP KE KANAN

Diposkan Oleh Muhammad Zaki on Sabtu, 08 Desember 2012 | 05.59

Tidur sangat dibutuhkan untuk mengembalikan stamina tubuh. Pada dasarnya, sesorang tidak menyadari gerakan yang dilakukan pada waktu tidur. Posisi tidur sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Salah satu posisi tidur yang dianjurkan adalah tidur dengan posisi miring ke kanan.

Barra’ bin Azib berkata, “Nabi Muhammad صلی الله عليه وسلم bersabda kepadaku,

‘Apabila kamu datang ke tempat tidurmu (hendak tidur), berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat, kemudian kamu tidur miring pada bagian kanan’


Sabda Lainnya didasarkan sabda Rasulullah: “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari - Muslim)

Banyak Sekali Hikmah Dibalik Sunnah Tidur Miring Ke Sebelah Kanan.

Seperti dikutip dari NYTimes, Selasa (26/10/2010) pada umumnya dokter akan menyarankan orang tidur miring sehingga gaya gravitasi bisa terjaga untuk menjaga isi perut.

Tidur miring menghadap kanan lebih bagus dari pada menghadap kiri, karena bisa melindungi jantung dari posisi tertindih atau tertekan organ lainnya.

Tapi ternyata tak selamanya demikian. Tidur menghadap kiri pun bisa memberikan manfaat untuk kesehatan terutama pada orang yang memiliki gangguan asam lambung.

Fakta menunjukkan bahwa posisi tidur menghadap ke kiri sangat penting bagi orang yang memiliki gangguan asam lambung seperti timbulnya rasa panas terbakar di perut (heartburn), karena posisi yang salah bisa membuat asam lambung masuk ke kerongkongan dan memicu insomnia.

Sebaliknya beberapa studi telah menemukan bahwa tidur menghadap ke kanan akan memperburuk kondisi tersebut di atas, sedangkan jika menghadap kiri bisa membantu menenangkan.

Bagi penderita gangguan lambung, tidur menghadap kanan membuat esophageal sphincter (saluran antara perut dan kerongkongan) melemah yang membuat asam lambung naik ke kerongkongan sehingga bikin perih di lambung.

Selain itu bagi penderita gangguan lambung, tidur dengan posisi menghadap kiri akan membuat sambungan antara perut dan kerongkongan tidak terbuka meskipun kadar asam lambung tinggi. Hasil studi ini dilaporkan dalam The Journal of Clinical Gastroenterology.

Dalam penelitian lain yang dimuat The American Journal of Gastroenterology menunjukkan bahwa tidur dengan posisi miring ke kanan bagi penderita lambung akan meningkatkan asam lambung dan kerongkongan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghilangkannya.

Berikut adalah menfaat dari tidur dengan posisi miring ke kanan.

1. Mengistirahatkan otak kiri. Pada dasarnya, otak manusia dibagi menjadi dua bagian yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak bagian bertugas mempersarafi organ tubuh sebelah kiri, begitu juga sebaliknya. Dalam keseharian, kita sering menggunakan organ tubuh sebelah kanan. Dengan tidur miring ke kanan, maka gantian otak kiri yang mensarafi organ tubuh sebelah kanan. Dan ini dapat menghindarkan dari bahaya yang timbul seperti pengendapan pembekuan darah, lemak, asam sisa oksidasi, dan penyempitan pembuluh darah.

2. Mengurangi beban jantung. Dengan posisi miring ke kanan saat tidur dapat membuat darah terdistribusi secara merata dan terkonsentrasi ke tubuh bagian kanan. Hal ini membuat aliran darah yang masuk dan keluar jantung lebih melambat sehingga denyut jantung lebih lambat dan tekanan darah akan menurun. Tidur miring ke kanan membuat jantung tidak tertimpa orang lain karena posisi jantung lebih condong ke sebelah kiri.

3. Mengistirahatkan lambung. Apabila seseorang tidur degan posisi miring ke kiri dapat menyebabkan chime ( makanan yang dicerna lambung yang bercampur asam lambung) akan terganggu dan akan memperlambat proses pengosongan lambung.

4. Mencegah batu kantung empedu. Dengan tidur miring ke kanan menyebabkan aliran chiem lancar sehingga cairan empedu meningkat. Hal ini dapat mencegah batu kantung empedu.

5. Meningkatkan waktu penyerapan gizi. Saat tidur akan akan terjadi pergerakan usus yang meningkat. Dengan posisi tidur miring ke kanan akan membuat perjalan makanan yang tercerna lebih lama, sehingga penyerapan sari makanan lebih optimal.

6. Merangsang buang air besar. Dengan tidur miring ke kanan akan membuat proses pengisian usus besar lebih cepat penuh sehingga merangsang gerak usus besar dan relaksasi dari otot anus. Ini akan merangsang untuk buang air besar.

7. Mengistirahatkan kaki kiri. Dalam aktifitas keseharian kita cenderung menggunakan kaki sebagai pusat pembeban sehingga kaki cepat merasa pegal. Dengan tidur miring ke kanan akan membantu pengosongan vena kaki kiri sehinnga rasa pegal lebih cepat hilang.

8. Menjaga kesehatan paru-paru. Paru-paru kanan lebih besar daripada paru-paru kiri. Saat tidur miring ke kanan, jantung juga akan condong ke kanan. Hal ini tak masalah karena jantung akan menekan paru-paru kanan yang ukurannya lebih besar.

9. Menjaga saluran pernafasan. Dengan tidur miring ke kanan akan mencegah jatuhnya pangkal lidah yang dapat mengganggu saluran pernafasan.

Subhanallah.. alhamdulillah ..
Selalu tersimpan hikmah yang baik, atas setiap perintah / ajaran Rasulullah SAW yang kita cintai ..

Semoga bermanfaat ..

Sumber

SYARAT UNTUK MENJADI IMAM MASJID DI MASA KEKHILAFAHAN TURKI USTMANI

Diposkan Oleh Muhammad Zaki on Jumat, 07 Desember 2012 | 02.45

Pada masa pemerintahan Sultan Suleyman dari Kekhilafahan Turki Usmaniah (1520-1566), fungsi masjid begitu luas, Sultan Turki, pernah diiklankan lowongan kerja untuk menjadi seorang imam Masjid Istambul. sehingga syarat menjadi Imam Masjid Agung Istanbul begitu berat, yakni:
1. Menguasai bahasa Arab, Latin, Turki, dan Persia
2. Menguasai Al-Qur’an
3. Menguasai Ilmu Syariat
4. Menguasai Ilmu Alam, Matematika, dan mampu mengajarkannya
5. Pandai menunggang kuda, bermain pedang, dan berperang
6. Berpenampilan menarik
7. Bersuara indah.


Inilah format iklan untuk jabatan imam masjid, pada kurang lebih 400 tahun lalu. Kita mencatat bahwa syarat-syarat yang dicantumkan dalam iklan tersebut —walaupun sangat sulit, bahkan mustahil dipenuhi untuk ukuran orang sekarang— tapi untuk ukuran orang kala itu, syarat ini merupakan syarat yang biasa dan wajar.

Islam ketika itu tengah mencapai masa puncak kejayaannya. Tak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum; tidak ada pemisahan antara ulama dan mujahid.

Dalam catatan sejarah ini terlihat bahwa jabatan imam masjid adalah jabatan prestisius karena peranan yang harus dimainkan sangat penting dalam penyebaran dakwah. Bila masyarakat Islam kita umpamakan dengan satu tubuh, maka sel tubuh pertama yang menjadi inti kehidupannya adalah masjid. Perhatian kaum muslimin terhadap masjid selalu ada sepanjang sejarah keemasan Islam. Kekuatan ruhani yang terpancar dari masjid itulah kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Kekuatan inilah yang membentuk akal dan perasaan mereka sepanjang masa.


Sumber

Sikap Syiah Terhdap Ulama-ulama Mereka yang Mengatakan Al-Qur’an telah Dirubah

Diposkan Oleh Muhammad Zaki on Kamis, 06 Desember 2012 | 00.41

Sikap kita terhadap orang-orang yang mengatakan Al-Qur’an tidak lengkap, telah dikurangi, dirubah dan diganti adalah jelas, mengkafirkan mereka dan memvonis mereka keluar dari daerah Islam dan keimanan. Karena kitab Allah adalah pokok dari agama ini, dengannya agama ini ada, darinya umat ini berpedoman.
Namun kita atau mungkin sebagian dari kita –termasuk orang Syiah- berhasil ditipu oleh Syiah dan ulama-ulamanya, pasalnya mereka mengakui bahwa tidak sedikit ulama Syiah yang berkeyakinan ditahrifnya Al-Qur’an, bahkan yang berpendapat tahrif tersebut adalah ulama-ulama besar, namun itu semua –kata mereka- bukanlah perkataan yang muktabar dalam agama Syiah, bukanlah pendapat ulama yang mesti dipedomani, karena banyak juga ulama Syiah yang membantah mereka dan menulis kitab-kitab yang menguatkan keyakinan dasar kaum Muslimin akan terjaganya Al-Qur’an suci ini.
Sampai disini, kita pun merasa puas dan hati kita menjadi lapang karena -Alhamdulillah- ada ulama mereka yang masih beriman terhadap kitabullah, sama dengan kita. Kita tak perlu lagi mencaci mereka bahkan tidak boleh menganggap mereka sesat dan kafir dalam hal ini karena merekapun berkeyakinan sama dengan kita terhadap Al-Qur’an.
Namun kita dikagetkan dengan sikap ulama-ulama tersebut terhadap ulama yang meyakini Al-Quran telah ditahrif, kita mendapati mereka ternyata tidak berlepas diri dari ulama-ulama pendukung tahrif tersebut, padahal jika bersikap adil dan inshof mestinya mereka umumkan bahwa ulama-ulama tersebut minimal telah sesat, padahal sebenarnya telah kafir terhadap Al-Qur’an, kitabullah yang terjaga.
Bahkan lebih dari itu, kita dapati adanya dukungan, penghormatan, pemuliaan dan pengagungan terhadap orang-orang yang kafir terhadap Kitabullah Al-Karim tersebut.
Tidak Mau Mengkafirkan
Salah seorang Ayatullah agung mereka, marja’ agama yang paling alim zaman ini, melakukan dosa besar  ini, pelecehan terhadap keagungan Kitabullah, ia telah menzalimi Al-Quran dan dirinya sendiri, dia mengatakan bahwa ulama yang berpendapat Al-Qur’an telah mengalami perubahan tidak berkurang kedudukannya dan kehormatannya, bahkan tidak wajib mengkafirkannya, ia sebutkan ini di bawah judul Sikap yang Tepat Terhadap Orang yang Berpendapat Tahrif Al-Qur’an,  “Iya, tidaklah bagus untuk terlalu mempermasalahkan orang yang berpendapat Al-Qur’an telah dirubah, meskipun mereka telah jatuh pada sebuah kesalahan yang tidak semestinya, namun itu merupakan kesalahan ilmiah karena kalalaian, dan itu tidak menyebabkan kehormatannya jatuh dan tidak mengharuskannya menjadi kafir.” (Fi Rihaabil Aqidah, Karya Al-Hakim, Juz 1 hal 149.)
Selanjutnya, Ulama agung mereka, Ali Al-Milani menegaskan bahwa tidak bisa mengkafirkan orang yang berpendapat tahrif, “Hanya saja mereka masih membantah buku kelompok Syiah yang lain, yaitu buku Fashlul Khithaab, karya Al-Mirzi An-Nuri. Benar bahwa Al-Mirzi An-Nuri merupakan ahli hadis terbesar, kita menghormati Al-Mirzi An-Nuri, beliau adalah seorang ulama besar, tidak ada peluang bagi kita untuk memusuhinya sedikit pun, tidak boleh, dan ini haram, karena beliau adalah muhaddis besar di antara ulama-ulama kita.” (Muhadharaat fil I’tiqadaat, Ali Al-Milani, Juz 2, hal 602)
Bahkan mati-matian dia membelanya, di bawah judul Sikapa Para Ulama Terhadap Al-Mirzi An-Nuri dan Kitabnya, ia menulis, “Para ulama telah membantah bukunya, sudah banyak kitab yang ditulis untuk menjawabnya, baik itu dari orang-orang yang sezaman dengannya dan ulama-ulama belakangan….Adapun kita mengkafirkannya, menolak, serta mengeluarkannya dari kelompok kita sebagaimana yang diminta oleh para penulis Ahlu Sunnah masa kini maka ini adalah sebuah kesalahan dan sangat tidak akan mungkin terjadi.” (Ibid, hal 608)
Beginilah kedudukan Al-Qur’an di hati mereka, ulama mereka lebih mereka muliakan daripada Al-Qur’an itu sendiri. Na’udzubillah.
Pujian Terhadap Mereka
Al-Majlisi, Seorang ulama besar Syiah, penulis buku Biharul Anwar, Mir’aatul ‘Uquul  dan selain itu. Dia-lah salah seorang yang mengatakan, “Riwayatnya shahih, tidak diragukan lagi bahwa riwayat ini dan banyak riwayat shahih yang lainnya dengan sangat jelas menerangkan bahwa terjadi pengurangan dan perubahan di dalam Al-Qur’an, dan menurut saya riwayat-riwayat tentang ini maknanya mutawatir ” (Mir’aatul ‘Uquul, Juz 12, hal 525)
Mestinya orang seperti ini divonis kafir, atau minimal sesat, tidak dihormati apalagi disanjung serta dipuji, namun apa yang terjadi, bagaimana penyikapan Syiah terhadapnya;
Abul Qasim Al-Khu’i menyebut dalam kitab Rijaal-nya, Mu’jam Rijaal Hadiis, “Syekh Al-Hurr menyebut Muhammad Baqir bin Muhammad Taqiy Al-Majlisi dalam Tadzkiratul Mutabahhirin sebagai Seorang alim, mulia, mahir, ahli tahqiq, mendalam ilmunya, Allamah, fahhamah, faqih, mutakallim, muhaddis, tsiqah tsiqah, mengumpulkan semua kebaikan dan keutamaan, memiliki kemampuan yang besar, kedudukan yang tinggi, semoga Allah memanjangkan jejak-jejak peninggalannya” (Mu’jaam Rijaal Hadiis, juz 15, hal 221)
Pada kitab yang sama berulang-ulang ia sebutkan pujian terhadap penghina Al-Qur’an ini,
“…..sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Majlisi semoga Allah merahmatinya di dalam kitabnya ­Al-Mir’aah” (Juz 5, hal 37)
“….Disebutkan oleh Al-Majlisi­ semoga Allah menyucikan jiwanya dalam kitabnya Al-Mir’aah” (Juz 11, hal 231)
“…Dan Syekh kami, Al-Majlisi semoga Allah menyucikan ruhnya condong kepada pendapat tersebut” (Juz 19, hal 106)
“Al-Majlisi, semoga Allah menyucikan rahasianya” (Juz 20, hal 93)
Dan begitu seterusnya, pujian-pujian datang silih berganti terhadap musuh Al-Qur’an ini.
Al-Khumaini tidak mau ketinggalan dalam memuji-muji orang yang telah mengatakan Al-Quran tidak asli lagi, berturut-turut ia puji dalam kitabnya Al-Arba’una Haditsan,
Berkata Ahli Taqiq agung, Ahlu Hadis terkemuka, Maulana Al-Majlisi” (hal 143)
“Dinukil oleh Al-Majlisi semoga Allah merahmatinya” (hal 329)
“Telah dijelaskan oleh Ahli Hadis agung, Al-Majlisi baginya rahmat” (hal 587)
“Adapun apa yang disebutkan oleh Al-Marhum, yang telah dirahmati Al-Majlisi” (hal 589)
Husein An-Nuri Al-Mirzi Ath-Thibrisi, Seorang penulis buku Fashlul Khithah Fi Itsbat Tahriif Kitaab Rabb Al-Arbab, sebuah buku yang menegaskan dengan sangat jelas akan terjadinya tahrif di dalam Al-Qur’an, bahkan dalam buku itu sebutkan surat-surat sebagai ganti dari Al-Qur’an yang diklaim telah dirubah-rubah tersebut, bagaimana sikap ulama-ulama Syiah terhadapnya?, mari kita baca di bawah ini,
Ayatullah Al-Uzhma, Abdul Husein Al-Musawi mengatakan, “Dialah guru para ahli hadis pada zamannya, orang jujur pembawa riwayat-riwayat, guru kami dan tuan kami yang paling wara’, Al-Mirzi Husein An-Nuri.” (An-Nash wal Ijtihad, hal 95)
Al-Khumaini juga memujinya dengan mengatakan, “Seorang alim, zuhud, faqih, ahli hadis, Al-Mirzi Husein An-Nuri, semoga Allah menerangi tempatnya yang mulia” (Arba’una Haditsan, hal 21-22)
Abul Qasim Al-Khu’i kembali menegaskan sikapnya terhadap musuh Allah ini, ia mengatakan, “Bersama dengan itu, maka Syekh kami ahli hadis, An-Nuri, telah mengeluarkan segala kemampuannya, semoga Allah menyucikan ruhnya
Begitulah sikap Syiah terhadap musuh Al-Qur’an ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hakekat yang telah kita ketahui ini. Semoga Allah membuka hati yang tersesat. Amin.

Bahan bacaan: kitab Al-Fisham An-Nakd; Dirasah Lihaqiqah Al-Azimah Baina Ulama Asy-Syiah wal Qur’an, karya Abdul Malik bin Abdurrahman Asy-Sayfi’i, Cet 1, 2010.)
(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

“Qamus Al Munjid”, Kamus Arab Terpopuler Sedunia Ternyata Disusun Pendeta

Jika Anda pernah menuntut ilmu di pesantren, tradisional maupun modern, atau bahkan berguru di berbagai perguruan tinggi Islam seperti Universtias Islam Negeri (UIN) Jakarta, Anda pasti mengenal Kamus al-Munjid.

Sebuah kamus yang dianggap paling lengkap dan komperehensif, antara lain karena dihiasi dengan gambar-gambar, yang dijadikan kamus utama di berbagai kampus Islam dan pondok pesantren seluruh dunia.
Bahkan di beberapa pondok pesantren seperti Ponpes Darunnajah Ulu Jami Jakarta, ada satu mata pelajaran khusus untuk menggunakan Kamus al-Munjid yang disebut Mata Pelajaran Fathul Munjid.

Namun tahukah Anda, bahwa Kamus Arab al-Munjid yang dipakai di seluruh ponpes dan kampus Islam dunia itu ternyata disusun oleh dua orang pendeta (rahib) Katolik bernama Fr. Louis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i yang dicetak, diterbitkan, dan didistribusikan oleh sebuah percetakan Katolik sejak tahun 1908.

Penggunaan Kamus al-Munjid yang sudah lama dan masih dipakai hingga kini bukanlah tanpa penentangan. Sebagian ulama menganggap kamus tersebut merupakan bagian dari operasi para orientalis yang memiliki agenda tersembunyi terhadap Dunia Islam.

Sekurangnya ada dua kitab yang ditulis ulama Islam yang berisi penentangan terhadap Kamus al-Munjid, yakni:
‘Atsrat al-Munjid fi al-adab wal ulum wa a’lam (Prof. Ibrahim al-Qhatthan, 664 halaman, terbit 1392 H), ini adalah kitab paling utama dalam mengkritisi Kamus al-Munjid.
An-Naz’ah an-Nashraniyah fi Qamus al-Munjid (DR. Ibrahim Awwad, 50 hal, terbit 1411 H)
Kamus al-Munjid sendiri memiliki beberapa kekurangan, jika tidak dikatakan sebagai kesengajaan, yakni:
• Ketika memuat entry “Al-Qur’an”, tidak pernah menyambungkannya dengan istilah “al-Kariem” dan sebagainya, namun ketika memuat entry kitab suci Kristen dan Yahudi, maka kamus ini menambahkan istilah “al-Muqaddas”,
• Ketika memuat entry “Nabi Muhammad”, tidak pernah mengikutsertakan gelar ‘Shalallahu Allaihi Wassalam”, demikian pula entry para shahabat tidak pernah ditambahkan dengan “Radiyallahu Anhu”,
• Tidak ada kalimat ‘Basmallah’ di atas setiap bab seperti halnya kitab-kitab umat Islam,
• Entry “al-Basmallah” yang sesungguhnya milik umat Islam namun dalam keterangannya tertulis “Bismil ab-wal ibn wa Ruhil Quds” yang memiliki arti sebagai “Dengan menyebut Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Ruh Kudus”, setelah itu baru ada entry “Bismillahirahmannirahim”,
• Kamus ini juga tidak membahas akidah Islam, namun banyak membahas hal-hal yang bersifat penyimpangan-penyimpangan akidah,
• Nama- nama tokoh Islam yang utama seperti para shahabat, tabiin, dan para ulama terkemuka juga tidak dimuat, namun di lain sisi nama-nama tokoh Barat Kristen banyak dimuat,
• Kamus ini tidak pernah merujuk pada sumber-sumber Islam yang asli, tapi sebaliknya merujuk pada sumber-sumber Barat, dan ini sangat jelas terlihat dalam entry ‘ibadat’ dan penyebutan nama-nama nabi dan rasul yang menggunakan istilah kristen,
• Banyak kesalahan penulisan nama-nama tokoh dan kaitannya dengan sejarah,
• Mengatakan bahwa daging babi itu sangat lezat,
• Dimasukkannya gambar-gambar dan aneka lukisan yang berasal dari Barat yang sama sekali tidak berdasarkan kebenaran, seperti halnya gambar Nabi Isa dan nabi-nabi lainnya. Bahkan ada sebuah gambar sepasang manusia dewasa telanjang yang tengah menangis, gambar itu dikatakan sebagai gambar Adam dan Hawa,
• Nabi Nuh, Luth, dan Sulaiman dikatakan bukan sebagai nabi, tapi Lukman disebut sebagai nabi. Nuh dikatakan sebagai ‘Manusia Taurat pertama’, Luth dikatakan hanya sebagai ‘keponakan Ibrahim’ dan Sulaiman dikatakan sebagai ‘Raja’ bukan nabi,
• Nabi Daud disebut sebagai pembunuh banyak lelaki untuk memperisteri jandanya, padahal beliau telah memiliki isteri sebanyak 100 orang.

Masih teramat banyak catatan-catatan tentang kamus produk orientalis ini yang sampai sekarang, entah kenapa, masih saja dipergunakan di banyak lembaga pendidikan Islam. Sudah saatnya umat Islam menyadari dan berhenti memakai kamus ini. Dan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), sudah sepatutnya melarang peredaran dan penggunaan kamus ini di seluruh Indonesia

Sumber

TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

IBADAH

Lihat Artikel Lainnya»

PEMIKIRAN

Lihat Artikel Lainnya»
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. AL-IKHWAN17 - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger